Mudik, Ya Senang, Ya Sedih…

Mudik, Ya Senang, Ya Sedih…

Antony Lee dan Hedriyo Widi

Sejak pagi buta, halaman depan Kantor Pusat Astra Honda Motor, Sunter, Jakarta Utara, Selasa (9/10), dipadati pengendara sepeda motor Honda dari beragam jenis. Hari itu para pemudik yang menggunakan 1.504 sepeda motor mudik bareng ke Semarang, Jawa Tengah, dengan pengawalan aparat kepolisian.

Raungan sepeda motor terdengar dari jauh. Riuh rendahnya, diselingi suara klakson, terdengar ramai, menyentak lamunan Hans (36) yang duduk di undak-undakan kompleks perkantoran Gubernur Jawa Tengah, Selasa malam. Rasanya sulit percaya kalau pagi buta tadi ia masih di Jakarta dan sekarang sudah berada di Semarang dengan menaiki sepeda motor.

Wajah kuyu dan mata yang merah berusaha dtutupi dengan senyuman senangnya. Berkali- kali ia memain-mainkan telepon selulernya sembari menunggu kedatangan rombongan Mudik Asyik Bareng Honda 2007.

“Ini pertama kali saya mudik menggunakan sepeda motor. Ternyata melelahkan juga,” ujar Hans, yang mengaku akan mengunjungi kerabatnya di Tegalsari, Kecamatan Candisari, Semarang.

Hans merasa senang bisa mudik dengan biaya murah. Namun, ia juga sedih karena nanti kalau kembali ke Jakarta, mungkin tak bersama-sama lagi.

Hans adalah salah satu peserta Mudik Bareng Honda yang diselenggarakan Astra Honda Motor, Kompas, Warta Kota, dan Radio Sonora. Hans, bersama pengendara motor lainnya, masuk dalam catatan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri) yang piagamnya diserahkan Manajer Muri Paulus Pangka.

Rombongan mudik bareng yang dilepas Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo ini disambut oleh Gubernur Jawa Tengah Ali Mufiz.

Mudik Bareng yang menempuh jarak 495 kilometer itu tak seperti yang dibayangkannya. Pada siang hari udara terasa panas menyengat, berdebu, dan ditambah lagi dengan asap kendaraan-kendaraan lain.

Ia juga tidak menyangka bahwa rombongan akan terpecah menjadi beberapa bagian. Menurut karyawan salah satu perusahaan otomotif di Jakarta itu, pengawalan mudik bareng tersebut kurang bagus.

“Pengawal yang menggunakan motor besar melesat dengan kecepatan lumayan tinggi sehingga banyak pemudik tidak dapat mengikuti mereka,” kata Hans, yang mengendarai Honda Grand buatan tahun 1996.

Hans, yang kontrak kerjanya baru saja selesai ini, tidak menyangka banyak pengendara yang ceroboh selama perjalanan. Tindakan ceroboh itu, misalnya, ada pengendara menggunakan sepatu dengan hak lumayan tinggi, membawa barang berlebih, dan bersenda gurau atau adu cepat dengan para pengendara lain.

“Maka tidak heran jika selama perjalanan sejumlah pengemudi bertabrakan. Saya melihatnya sendiri. Ada barang yang jatuh dan menyebabkan pengemudi di belakangnya mengerem mendadak,” ujarnya.

Maslur (38), peserta mudik lainnya, sudah tiba di Kantor Gubernur Jawa Tengah sekitar pukul 20.00. Laki-laki yang hendak mudik ke Demak ini tiba lebih dulu daripada rombongan utama karena berangkat satu jam lebih awal saat beristirahat di Tegal.

Ia khawatir kehujanan sehingga langsung berangkat sekitar pukul 16.30. Setibanya di pemberhentian terakhir, ia langsung menyantap makanan yang tersedia. Sambil menunggu rombongan utama, ia mengisi waktu bercengkerama dengan rekannya, sesama peserta, sambil menunggu rombongan utama Mudik Asyik Bareng Honda 2007.

“Rombongan sudah bercampur, seharusnya dibagi menjadi beberapa tim. Tim merah paling depan, tetapi setelah istirahat di Tegal, semua rombongan menjadi satu,” ujar pria yang bekerja sebagai tukang ojek di kawasan Cempaka Putih, Jakarta, ini.

Maslur memilih menginap semalam di Kantor Gubernur Jawa Tengah sambil menunggu fajar tiba. Dari Semarang, ia masih harus menempuh perjalanan lebih dari satu jam untuk mencapai rumahnya di Demak. Lokasi rumah yang jauh dari jalan besar membuatnya merasa kurang nyaman melanjutkan perjalanan karena sudah terlalu larut.

Rombongan pemudik tiba di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah sekitar pukul 21.00. Suasana bertambah meriah dengan hiburan musik oleh pihak penyelenggara. Selain itu, panitia penyelenggara membagikan hadiah utama, yaitu sebuah motor.

Rata-rata pemudik yang mengendarai motor tidak pulang bersama keluarga. Keluarga mereka telah terlebih dahulu pulang dengan menggunakan bus.

Ada juga pemudik yang membawa keluarganya, tetapi pihak penyelenggara menyediakan bus gratis untuk ibu dan anak yang mudik.

Pada akhir sambutannya, Ali Mufiz berpesan agar para pemudik tetap menjaga kebersamaan dan ketertiban itu ketika pulang ke Jakarta. (A19/A14) Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: