Cadangan Melimpah, Pemanfaatan Masih Lemah

Oleh Try Harijono

Dari sisi cadangan energi, sebenarnya Indonesia tidak perlu khawatir. Selain jumlahnya sangat melimpah dan tersebar di beberapa wilayah, jenisnya pun sangat beragam. Sayang, karunia Tuhan ini tidak dimanfaatkan secara optimal.

Semua pihak masih tertumpu pada minyak bumi. Padahal, selain jumlahnya sangat terbatas dan tak terbarukan, harga minyak bumi pun terus naik dan sulit dikendalikan.

“Energi lain yang sangat melimpah belum dimanfaatkan secara optimal,” kata Rudi Rubiandini RS, pakar perminyakan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga Ketua Majelis Ahli Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia.

Gas alam, misalnya, Indonesia memiliki cadangan sekitar 185,8 triliun cubic feet, batu bara 19,3 miliar ton, dan panas bumi sekitar 27.000 megawatt (MW). Belum lagi berbagai energi terbarukan seperti tenaga matahari, tenaga air, tenaga angin, biogas, biomassa, dan mikro hidro yang cadangannya luar biasa.

Jika minyak bumi yang cadangannya saat ini sekitar 9,1 miliar barrel dan diproduksi 387 juta barrel dalam setahun, maka jenis energi ini di Indonesia diperkirakan akan habis sekitar 28 tahun mendatang. Tidak demikian dengan gas. Cadangannya yang melimpah, sedangkan produksinya baru 2,95 TSCF, diperkirakan energi ini baru akan habis 62 tahun mendatang.

Adapun batu bara, dengan produksi 132 juta ton per tahun, diperkirakan baru akan habis 146 tahun mendatang. “Namun batu bara menimbulkan polusi yang cukup tinggi sehingga dituding tidak ramah lingkungan,” kata Rudi.

Karena itu, Rudi mengusulkan agar pemerintah serius mengembangkan tenaga panas bumi yang potensinya untuk seluruh dunia paling besar di Indonesia, yakni 27.000 MW atau sekitar 40 persen dari potensi dunia. Hal ini wajar karena populasi gunung berapi di Indonesia merupakan yang paling padat di dunia.

Potensi panas bumi Indonesia pun luar biasa karena tersebar di 151 lokasi, dan potensi terbesarnya ada di Pulau Sumatera sebesar 5.433 MW. Sayang, selama 20 tahun mengembangkan energi ini, Indonesia baru memanfaatkan sekitar 787 MW atau 4 persen dari potensi yang ada.

“Kendalanya terutama investasi yang sangat besar dibandingkan dengan minyak bumi, apalagi batu bara. Ini disebabkan kegiatan pengeboran dan eksplorasi merupakan kegiatan yang padat modal dan membutuhkan teknologi tinggi,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro.

Sudah mendesak

Apa pun tantangannya, penggunaan energi alternatif sudah sangat mendesak dan tidak bisa ditunda-tunda lagi. “Jika terlambat, Indonesia bisa mengalami krisis energi karena konsumsi energi dalam negeri terus meningkat,” kata pengamat perminyakan Kurtubi.

Di sektor transportasi, misalnya, kebutuhan energi sekitar 99,9 persen masih menggunakan bahan bakar minyak, baik premium maupun solar. Hanya 0,1 persen yang menggunakan biofuel dan bahan bakar gas.

Begitu juga di sektor rumah tangga dan komersial, masih 53,1 persen yang menggunakan bahan bakar minyak, 36 persen menggunakan listrik, dan baru 10,6 persen yang menggunakan elpiji.

Di sektor industri, sampai 2006 masih 43,8 persen industri yang mengandalkan kebutuhan energinya dari bahan bakar minyak. Hanya 22,5 persen yang menggunakan batu bara, dan 19,6 persen yang menggunakan gas.

Di sektor pembangkit listrik pun sama saja. Sekitar 23,7 persen pembangkit listrik masih menggunakan energi bahan bakar minyak, meski jelas-jelas tidak ekonomis.

Rendahnya penggunaan energi alternatif ini, menurut Rudi Rubiandini, karena selama ini tidak ada kebijakan yang serius dan kemauan politik dari pemerintah untuk mengembangkan energi alternatif. Justru pemerintah memberikan subsidi yang sangat besar untuk energi minyak karena tak mau kehilangan simpati dari masyarakat.

“Padahal, jika dikembangkan energi alternatif, semua pihak, baik masyarakat maupun negara, sangat diuntungkan. Kuncinya adalah keberanian pemerintah melakukan investasi dalam pengembangan energi alternatif,” kata Rudi.

Bayangkan saja jika pemerintah mengembangkan energi listrik tenaga surya (solar energy). Untuk menjangkau daerah-daerah terpencil tidak perlu dibangun jaringan listrik yang yang mahal karena tenaga surya bisa dimanfaatkan di berbagai pelosok Tanah Air.

“Begitu pun lampu penerangan jalan raya, tidak perlu menggunakan listrik bertenaga diesel seperti dilakukan sejumlah daerah, tetapi memanfaatkan listrik tenaga surya,” kata Rudi.

Perlu insentif

Banyak pilihan dalam penerapan energi alternatif ini sesuai dengan kondisi setiap wilayah. Untuk wilayah Kalimantan Barat, misalnya, sangat sesuai jika dikembangkan pembangkit listrik tenaga air. Maklum, dari potensi pembangkit listrik tenaga air secara nasional yang diperkirakan sekitar 75.670 MW, sekitar 4.455 MW atau hampir 6 persen di antaranya berada di Kalimantan Barat.

Daerah lain bisa saja mengembangkan energi listrik tenaga matahari atau angin meski teknologinya masih harus disempurnakan. “Kuncinya adalah kemauan politik dari pemerintah untuk menghapus subsidi minyak dan mengalihkannya untuk mengembangkan energi alternatif yang terbarukan,” tutur Kurtubi.

Kebijakan ini perlu disertai dengan langkah konkret berupa strategi untuk mendorong semua pihak memanfaatkan energi alternatif yang terbarukan. Misalnya, perusahaan pembangkit energi yang masih menggunakan minyak secara bertahap diwajibkan mengoperasikan energi terbarukan.

Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro juga menyadari pentingnya menggalakkan penggunaan energi alternatif yang terbarukan secara nasional. Departemen ESDM, umpamanya, sudah menyusun sejumlah target yang harus dicapai pada tahun 2010.

Sebagai contoh, penggunaan 43,8 persen bahan bakar minyak sebagai sumber energi oleh sektor industri saat ini pada tahun 2010 ditargetkan bisa ditekan hingga 27,8 persen, sedangkan penggunaan batu bara ditingkatkan dari 22,5 persen menjadi 34,9 persen.

“Sektor industri sebenarnya tidak perlu dipaksa. Mereka akan mencari sendiri energi yang bernilai ekonomis dan efisien asalkan tersedia dalam jumlah memadai,” kata Menteri Purnomo.

Begitu pun di sektor pembangkit listrik, penggunaan batu bara yang saat ini masih 46,2 persen pada tahun 2010 ditargetkan bisa ditingkatkan menjadi 71,4 persen. Adapun di sektor rumah tangga, penggunaan elpiji sebagai sumber energi akan ditingkatkan dari 10,6 persen menjadi 19 persen. Sementara di sektor transportasi, penggunaan bahan bakar minyak yang masih 99,9 persen ditargetkan pada tahun 2010 bisa dikurangi menjadi 88,8 persen dengan mengembangkan biofuel dan gas.

Ambisi ini sebenarnya realistis asal disertai upaya serius dan konsisten dari berbagai pihak untuk menggalakkan penggunaan energi alternatif yang terbarukan. Jangan ditunggu-tunggu lagi. (AIK)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: