Tiga Tahun Telah Berlalu

Sering kita diingatkan untuk jangan menyia-nyiakan waktu karena ia berjalan begitu cepat. Ketika ia sudah berlalu, ia tidak pernah bisa kembali.

Tidak terasa hari ini, 20 Oktober, tiga tahun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memegang tampuk kekuasaan. Tidak seperti waktu-waktu sebelumnya di mana setiap setahun pemerintah diwarnai penilaian terhadap kinerja pemerintahan yang diikuti dengan usulan perombakan kabinet, kali ini semuanya berjalan lebih tenang. Semuanya tentu tidak terlepas dari kalkulasi politik di mana tidak cukup bermanfaat lagi meributkan kursi menteri karena toh tinggal dua tahun pemerintahan akan segera berakhir dan berganti.

Kondisi ini tentunya baik bagi Presiden maupun para menteri. Dua tahun pemerintahan yang tersisa bisa dipakai untuk berkonsentrasi kepada pemenuhan janji-janji yang tiga tahun lalu pernah disampaikan.

Ada tiga hal yang selalu disampaikan Presiden Yudhoyono dalam program yang akan dilakukan, yakni kebijakan yang pro-pembukaan lapangan kerja (pro-job), pro-pengentasan orang miskin (pro-poor), dan pro-pertumbuhan ekonomi (pro-growth). Sejauh ini yang boleh dikatakan mulai lumayan adalah yang ketiga. Paling tidak sekarang ini angka pertumbuhan bisa di atas 6 persen.

Namun, kita ingin mengingatkan bahwa itu bukanlah sesuatu yang pantas membuat pemerintahan bisa berpuas diri. Koreksi terhadap pertumbuhan itu bisa terjadi setiap saat, apalagi dengan gejolak harga minyak dunia seperti sekarang ini. Salah-salah mengantisipasinya bisa celaka, seperti kita sudah rasakan menjelang akhir tahun 2005 ketika pertumbuhan ekonomi terkoreksi tajam akibat gejolak harga minyak dunia.

Hal lain yang pantas menjadi perhatian pemerintah sekarang ini adalah pertumbuhan yang tidak didasari oleh faktor fundamental yang kokoh. Pertumbuhan 6,3 persen pada kuartal II bukan didorong oleh investasi langsung. Dari jumlah kredit disalurkan perbankan, kredit untuk modal kerja mencapai Rp 461 triliun, sementara kredit untuk investasi hanya Rp 161 triliun.

Inilah salah satu yang menjadi jawaban mengapa meski pertumbuhan bisa mencapai 6,3 persen, jumlah orang miskin maupun penganggur tidak juga berkurang. Bahkan, dilihat dari orang yang harus menerima bantuan beras miskin, angkanya justru meningkat.

Kita tahu jawaban mengapa orang cenderung lebih memilih membesarkan bisnis yang sudah ada ketimbang membangun bisnis yang baru. Lagi-lagi faktor peraturan perburuhan yang kaku, aturan perpajakan yang tidak kompetitif, infrastruktur yang tidak mendukung, serta ekonomi biaya tinggi yang masih tetap ada, menjadi alasan orang untuk tidak mau mengambil risiko. Kalaupun bertahan pada bisnis yang ada, itu karena mereka tak punya pilihan lain, kecuali meneruskan bisnisnya.

Itulah yang harus menjadi perhatian Presiden Yudhoyono pada dua tahun masa pemerintahan yang tersisa. Bagaimana berani melakukan terobosan terhadap masalah yang tidak pernah terselesaikan. Tanpa itu, mustahil Presiden Yudhoyono akan bisa memenuhi janjinya untuk pro-orang miskin dan pro-penganggur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: