Sejarah 1965 Bingungkan Sekolah, Aktor Utama Masih Jadi Misteri

RADAR SEMARANG- Tanggal 30 September empatpuluhdua tahun yang lalu, sebuah peristiwa penculikan sejumlah petinggi angkatan darat memicu terjadinya tragedi kemanusiaan yang masih menimbulkan kontroversi hingga kini. Kontroversi peristiwa yang dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September (G 30 S) tersebut adalah terkait pelaku utama di balik peristiwa ini.

Selama pemerintahan orde baru, hanya ada sejarah tunggal yang menyebutkan bahwa pelaku G 30 S adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Sehingga dalam teks sejarah yang dikeluarkan pemerintah selalu ditambahi embel-embel PKI di belakang kata G
30 S.

Namun setelah era reformasi bergulir, sejumlah pihak mengeluarkan sejarah G 30
S dalam berbagai versi pelaku. Selain PKI, sejumlah peneliti menyebut peristiwa
tersebut didalangi oleh pihak intelejen Amerika CIA, Soekarno, Soeharto atau
akibat pertentangan internal di tubuh AD (Angkatan Darat).

Setiap versi memiliki alasan dan pembuktian yang kuat sehingga membuat orang
bingung apalagi jika diajarkan di sekolah. Guru bingung, muridnya mungkin
linglung,î tutur Dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Undip Singgih Tri
Sulistiyono dalam diskusi ëMengupas G 30 Sí yang diselenggarakan Aliansi
Jurnalis Independen (AJI) Sabtu (29/9).

Singgih menyebutkan bahwa peristiwa G 30 S hingga saat ini merupakan salah satu
misteri dalam sejarah Indonesia. Dan bagi kalangan pendidik, materi ini
mengundang dilematis tersendiri. Sebab, pemerintah saat ini telah
ëmengembalikaní sejarah tunggal bahwa pelaku adalah PKI. Sementara para siswa
bisa memperoleh informasi dari berbagai sumber tentang bermacam versi pelaku
utama peristiwa yang berbuntut dengan pembunuhan massal dan penahanan paksa di
sejumlah daerah.

Sementara itu mantan Sekretaris Lembaga Sejarah Comite Central (CC) PKI Sumaun
Utomo memaparkan bahwa sejarah G 30 S versi pemerintah mengandung banyak
kebohongan. Ia menilai bahwa peristiwa ini didalangi oleh Soeharto yang saat itu
menjabat sebagai Panglima Kostrad (Komando Strategis AD) bukannya PKI. Salah
satu bukti yang dipaparkannya adalah pasukan dari Jateng dan Jatim yang
disebut-sebut sebagai pendukung utama G 30 S datang ke Jakarta atas perintah
Panglima Kostrad. Dua batalyon ini diminta datang ke Jakarta dengan persenjataan
lengkap termasuk amunisi dan bermarkas di dekat makostrad.

Bahkan pasukan ini bisa keluar masuk makostrad dengan leluasa untuk ke kamar
mandi,î tutur mantan Dekan Fakultas Politik Universitas Rakyat Indonesia (URI)
ini.

Ia juga menyebutkan bahwa salah satu tokoh kunci G 30 S PKI Syam Kamaruzaman
merupakan intel dari tentara yang bisa masuk sebagai anggota biro khusus PKI.
Lewat Syam inilah, komando gerakan berjalan tanpa sepengetahuan pimpinan PKI.

Sumaun yang pernah mendekam dalam kamp pembuangan Pulau Buru selama 7 tahun ini
menjelaskan, bahwa ia pernah bertanya kepala eks Kolonel Abdul Latief mengenai
garis komando G 30 S. Ternyata Latief yang juga disebut sebagai pimpinan tinggi
gerakan tidak mengenal sosok Letnan Dul Arief yang memimpin pasukan penculik 6
jenderal TNI AD tersebut.

Latief yang teman sekolah saya juga tidak mengenal siapa Letkol Untung.
Kemungkinan nama Untung hanya dicatut saja,î jelasnya.

Yang pasti, peristiwa ini berlanjut dengan berbagai tragedi kemanusiaan tentang
pembunuhan massal terhadap masyarakat yang dianggap menjadi pendukung PKI.
Jumlah pasti korban jiwa hingga saat ini tidak diketahui pasti. Ada yang
menyebutkan ratusan ribu, ada pula yang menyodorkan angka jutaan jiwa. Bahkan
mantan komandan RPKAD Sarwo Edhi Wibowo yang memimpin operasi pembersihan PKI
pernah menyebut angka hingga 3 juta orang yang terbunuh.

Selain itu, masih banyak anggota dan simpatisan PKI yang ditahan tanpa melalui
pengadilan. Mereka yang sebagian besar tidak tahu menahu tentang G 30 S tersebut
juga mengalami berbagai siksaan selama dalam tahanan.

Sebab itu, sejumlah mantan tahanan politik (tapol) peristiwa 1965 membentuk
lembaga untuk menuntut rehabilitasi dan kompensasi dari pemerintah atau
hilangnya hak-hak mereka selama ini. Sebuah organisasi bernama Lembaga
Perjuangan Rehabilitasi Korban Rezim Orde Baru (LPR-KROB) dibentuk untuk
berjuang lewat jalur hukum. (

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: