KM Acita Tidak Seimbang

Semarang, Kompas – Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal menduga Kapal Motor Acita 03 yang tenggelam di perairan Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, Kamis (18/10) malam, karena kapal tidak seimbang. Itu terjadi karena penumpang berbondong-bondong naik ke bagian atas kapal yang sudah mulai mendekati pelabuhan.

“Kami sudah mengirim dua penyidik PNS (pegawai negeri sipil),” kata Jusman Safeii Djamal di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang, Jawa Tengah, kemarin.

Keterangan dari Bau-Bau menyebutkan, hingga Jumat malam evakuasi korban tenggelamnya KM Acita 03 terus dilakukan. Tim SAR bersama jajaran TNI dan Polri telah mengevakuasi 30 jenazah korban tewas dan 125 korban selamat.

Wali Kota Bau-Bau MZ Amirul Tamim yang dihubungi dari Makassar mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Tim SAR, TNI, Polri, dan nelayan untuk mencari korban yang diperkirakan hilang. Hal yang sama dikemukakan Komandan Kodim 1413 Buton Letkol Arm Ganef Suwondo. Namun, informasi tentang jumlah penumpang kapal itu sendiri masih simpang siur, antara 180 dan 188 orang, termasuk nakhoda dan awaknya.

KM Acita 03 tenggelam sekitar pukul 21.00 Wita di perairan Bau-Bau dalam pelayaran dari Pulau Tomea, Sulawesi Utara, menuju Bau-Bau. Kapal yang dinakhodai La Boti (50) itu berangkat dari Tomea hari Kamis pukul 10.30 dan dijadwalkan tiba di Bau-Bau, Kamis pukul 22.00.

Kepala Kepolisian Resor Bau-Bau Ajun Komisaris Besar Moh Badrus menyebutkan, saat kejadian kapal berbobot mati 38 ton itu sebenarnya sudah mendekati Pelabuhan Bau-Bau. Ketika jarak tempuh tinggal sekitar 10 mil, atau sisa waktu pelayaran 30-45 menit, kapal tiba-tiba oleng. Badan kapal terus miring lalu ditelan laut.

Mengutip hasil pemeriksaan terhadap nakhoda La Boti dan sejumlah anak buah kapal, Badrus menyatakan bahwa hal itu terjadi karena dalam waktu bersamaan para penumpang naik ke atas geladak untuk mendapatkan sinyal telepon seluler. Mereka bermaksud memberikan kabar bahwa mereka segera tiba kepada keluarga di Bau-Bau.

Akibatnya, kapal oleng. Penumpang pun panik. Ada yang melompat ke laut, tetapi ada juga yang tidak berdaya sampai akhirnya seluruh badan kapal tenggelam. Para korban selamat umumnya diselamatkan kapal nelayan, dan sebagian lagi oleh tim SAR.

Hingga Jumat malam sebagian korban yang ditemukan masih dirawat di Rumah Sakit Bau-Bau. Namun, sebagian besar korban sudah dijemput keluarga mereka sejak siang. Demikian pula jenazah para korban yang tewas.

Kelebihan muatan

Ada dugaan kapal tersebut kelebihan muatan. Kapasitas kapal 80-100 penumpang, tetapi saat itu mencapai 180-an penumpang. “Kami akan periksa seberapa jauh unsur kesengajaan nakhoda dalam kasus ini,” tutur Badrus.

Terhadap dugaan kelebihan penumpang, Jusman belum bisa memastikannya. Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Menteri Perhubungan meminta administrator pelabuhan memantau dan tidak mengizinkan berlayar kapal yang kelebihan muatan.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Departemen Perhubungan Harijogi mengatakan, KM Acita memiliki bobot mati 38 ton dengan panjang sekitar 21 meter. “Kapal kayu dengan spesifikasi seperti Acita sangat sensitif terhadap gerakan penumpang,” ujarnya.

Sementara itu, di Pelabuhan Tanjung Priok, KM Srikandi jurusan Jakarta-Belitung mengangkut penumpang melebihi kapasitas. Kapasitas maksimal KM Srikandi adalah 554 penumpang. Namun, saat bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, kapal ini menurunkan 715 penumpang. (GAL/NAR/A10)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: