Gempa Tremor 50 Menit, Para Pengamat dan Pengungsi Sempat Tegang

Kediri, Kompas – Aktivitas Gunung Kelud kembali melonjak pada Jumat (19/10) sekitar pukul 15.00. Gempa tremor yang terus-menerus seperti akan segera terjadi letusan membuat pengamat dan pengungsi tegang. Namun, setelah 50 menit berlangsung, kesinambungan gempa tremor menghilang.

Pengamat dan penyelidik gunung api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Umar Rosadi mengatakan, tremor terjadi terus-menerus sejak Jumat pukul 15.00. Amplitudo maksimum saat itu 4 mm. “Menjelang letusan umumnya terjadi tremor terus-menerus dan amplitudo maksimum bisa mencapai 20 milimeter,” kata Umar.

Pada Jumat sore, Gunung Kelud tertutup kabut dan hujan turun di sekitar gunung hingga Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, tetapi itu tak berpengaruh pada aktivitas Gunung Kelud.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono di pos pemantauan sempat meminta siapa saja yang dekat gunung agar segera menjauh, termasuk sejumlah wartawan.

Surono mengatakan, berdasarkan teori dan pengalaman di berbagai gunung api, gempa tremor yang terus-menerus itu selalu diikuti letusan dan tidak pernah mereda kembali. Fenomena tremor selama 50 menit dan kemudian reda seperti kemarin sebelumnya tak pernah terjadi. Suhu air danau kawah pada kedalaman 15 meter, Jumat, mencapai 38,1 derajat Celsius.

Tenang

Sepanjang hari hingga siang kemarin aktivitas kegempaan Gunung Kelud relatif tenang. Di Pos Pemantau Gunung Kelud terekam 10 gempa vulkanik dangkal, 11 gempa tremor, 1 gempa tektonik lokal, dan 2 gempa tektonik jauh.

Warga Desa Sempu dan Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, sejak Kamis malam sudah “dipaksa” mengungsi oleh pamong desa dan polisi. “Kami tidak boleh pulang. Kata petugas, Gunung Kelud masih bahaya dan Kepala Polri mau datang. Katanya boleh pulang pukul 11.00, tapi cuaca mendung jadi dilarang lagi,” tutur Kasmilah (25), warga Sugihwaras.

Di depan gerbang Balai Desa Tawang, Kecamatan Wates, tempat warga Sugihwaras mengungsi, dipasang barikade kawat berduri dengan papan bertuliskan “Satlantas”. Adapun di SD Negeri Tawang 1, pagar gerbang diikat dengan kawat. Pengungsi masih bisa keluar dengan seizin petugas melalui pintu samping sekolah.

Dalam kunjungan ke tempat pengungsian di Desa Segaran dan Desa Tawang, Kecamatan Wates, Kepala Polri Jenderal (Pol) Sutanto meminta warga tetap di pengungsian demi keselamatan mereka sendiri.

Di Kecamatan Nglegok, Blitar, suasana tetap tenang. Warga di daerah rawan bencana juga tidak mengungsi, termasuk dua dusun terdekat, Kalikuning dan Kalibladak, yang dihuni sekitar 500 penduduk. Di kecamatan itu ada lima desa yang rawan bencana dengan jumlah penduduk sekitar 29.000 jiwa. (INA/SSD/CHE)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: