Mulai Dibuat Kolam Penampungan Lumpur Baru

Sidoarjo, Kompas – Badan Pelaksana Badan Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo atau BP BPLS hari Kamis (18/10) mulai membuat tanggul sekaligus kolam penampungan lumpur baru di sebelah timur tanggul yang rusak. Kolam seluas 60 hektar ini dibuat untuk mengantisipasi seringnya lumpur meluber di titik 42.

Kemarin, sekitar pukul 05.30, tanggul kolam lumpur di titik 42 itu membuat heboh karena kembali ambles. Lumpur meluber dari kolam dan pukul 12.00 tanggul jebol beberapa saat sebelum ditutup dengan pasir dan batu. Lumpur yang meluber merusak konstruksi tanggul dan mempersulit BP BPLS memperbaiki tanggul setinggi 11 meter itu.

Namun, pembuatan kolam penampungan yang terletak di Desa Renokenongo itu akan diikuti tindakan lain. Puluhan warga yang masih tinggal di Renokenongo harus pindah. Begitu pula tiga sekolah yang berada di sana, yakni TK sampai Madrasah Aliyah Kholid bin Walid, SDN Renokenongo 1, dan SDN Renokenongo 2.

Menurut catatan Kompas, sampai akhir Juni 2007, luas endapan lumpur mencapai 575 hektar atau setara dengan 575 lapangan sepak bola. Artinya, selama setahun lumpur meluas empat kali dari luas awalnya, 144,4 hektar pada Juni 2006. Panjang tanggul yang ada 30,19 kilometer dan empat kolam penampungan lumpur yang ada luasnya 333 hektar.

Dalam konteks penanganan lumpur jangka panjang, Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Indrasurya B Mochtar mengusulkan lumpur diarahkan sepanjang 17 kilometer ke arah timur atau ke arah Selat Madura tanpa melalui Sungai Porong.

Dengan formula ini, semua tanggul yang kini berada di timur semburan lumpur dibongkar dan lumpur dibiarkan mengalir ke timur. Tanggul pengganti dibuat di sepanjang sebelah timur Jalan Raya Porong dengan batas di utara Sungai Ketapang dan sebelah selatan Sungai Porong. Di sepanjang kedua sungai itu dibuat tanggul memanjang ke laut.

Hanya saja, dengan usulan itu, tambak, tanah, dan permukiman di sebelah timur pusat semburan harus dibebaskan. Tempat permukiman di wilayah itu adalah Desa Sentul, Plumbon, Permisan, Keboguyang, Glagaharum, Kupang, dan Penatarsewu.

“Biayanya sekitar Rp 5 triliun. Memang besar, tetapi lebih baik sekaligus seperti ini daripada dengan cara tambal sulam yang dilakukan sekarang,” kata Indrasurya.

Kumpulkan ahli

Di tempat terpisah, dua ahli, yakni mantan Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Andang Bachtiar dan Ketua Kelompok Keilmuwan Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung Hasanuddin Zainal, menyebutkan, untuk menyelesaikan persoalan lumpur Lapindo yang menyembur di Porong, pemerintah harus mengumpulkan para ahli geologi, geodesi, dan geoteknik di Indonesia. Sebelum pertemuan dilakukan, harus ada penelitian komprehensif terkait lumpur yang menyembur itu.

“Pertemuan yang dilakukan bukan pertemuan tiga jam sampai tujuh jam seperti yang dilakukan selama ini. Pertemuan yang diadakan nanti harus membuahkan hasil. Kalau perlu, berhari-hari,” kata Andang.

Di Indonesia, ujar Hasanuddin, banyak ahli di bidang geologi, geodesi, dan geoteknik. Sayang, pemerintah belum menyatukan para pakar ini untuk membahas masalah lumpur di Porong.

Sebelum pertemuan dilaksanakan, Andang mendesak penelitian komprehensif terkait lumpur dilakukan terlebih dulu. “Hasil penelitian menjadi dasar pengambilan keputusan penanganan lumpur ke depan,” tutur Andang.

Penelitian terhadap lumpur yang menyembur di Porong tidak sulit dan tidak mahal. Ada empat alat yang dianjurkan dipakai, yakni alat mikroseismik (alat pengukur getaran mikro di dalam tanah), microgravity (pengukur perubahan densitas di bawah tanah), ground penetrating radar (alat untuk melihat kondisi di bawah tanah sedalam 50 meter), dan global positioning system.

“Penelitian dilakukan secara rutin karena dinamika bawah permukaan tanah yang terjadi di sekitar semburan lumpur Porong terus berubah,” ujar Andang.

Kalaupun BP BPLS telah melakukan penelitian dengan alat-alat ini, Andang meminta data hasil penelitian diungkapkan dalam suatu web khusus di internet. Di web itulah para peneliti di seluruh Indonesia bisa melihat dan menyumbangkan saran.

Tanpa ada penelitian komprehensif dan pembahasan secara menyeluruh oleh ahli geologi, geodesi, dan geoteknik, Andang dan Hasanuddin yakin penanganan lumpur akan tambal sulam. “Seperti kalau ada tanggul jebol, ya, ditutup. Kalau meluber, ya, tanggul ditinggikan. Namun, jangka panjang mau diapakan, tidaklah jelas,” kata Andang. (APA)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: