Para Pelaku Usaha Jatim Resah, Kerugian Sudah Capai Puluhan Triliun Rupiah

Para pelaku usaha Jawa Timur resah menyusul melubernya kembali lumpur di titik 42, Minggu (14/10) malam. Keresahan muncul terutama karena tak jelas kapan lumpur yang meletup sejak 29 Mei 2006 itu berhenti menyembur. Kerugian akibat lumpur itu sudah mencapai puluhan triliun rupiah.

Mengutip pernyataan pengamat ekonomi Jawa Timur (Jatim) dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas Surabaya, Abdul Mongid, potensi kerugian di sektor ekonomi hingga akhir tahun 2006 telah mencapai Rp 13 triliun. Potensi itu dihitung berdasarkan nilai kerugian yang diderita para pelaku usaha di Jatim, yang terkena dampak langsung dan dampak ikutan akibat melubernya lumpur Lapindo.

Terbenamnya ruas Jalan Tol Surabaya-Gempol dan lumpuhnya ruas Jalan Raya Porong mengakibatkan angkutan barang harus memutar melalui jalur Mojosari yang lebih jauh. Biaya tambahan yang harus ditanggung eksportir rata-rata Rp 1 juta per kontainer. Jika dikalikan dengan total volume kontainer yang melalui jalur itu, kerugian eksportir mencapai Rp 1 miliar per hari. Jika lumpur Lapindo telah meluap selama 17 bulan (501 hari), berarti kerugian eksportir mencapai Rp 501 miliar.

Itu belum termasuk kerugian pengusaha angkutan darat, terutama perusahaan otobus rute Surabaya-Malang, Surabaya-Pasuruan-Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi atau Surabaya-Pasuruan-Probolinggo-Lumajang-Jember.

Ketua Organda Jatim Mustafa mencatat, kerugian para pengusaha angkutan darat mencapai Rp 1,2 miliar per bulan atau sekitar Rp 20,4 miliar selama 17 bulan. Kerugian dihitung dari penurunan omzet sebesar 60 persen, yang dialami 150 perusahaan otobus yang mengoperasikan 1.500 armadanya di rute tersebut.

Juru bicara PT PLN Distribusi Jatim Faisal Asy’ari mengemukakan, total asetnya, berupa stasiun transmisi yang hilang akibat terendam lumpur, mencapai Rp 111 miliar. Itu belum termasuk kerugian akibat tunggakan pembayaran sebesar Rp 1 miliar dan hilangnya pendapatan dari 14.000 pelanggan yang rumahnya ditelan lumpur.

Lumpur Lapindo mengakibatkan sedikitnya 22 pabrik tutup dengan kerugian sebesar Rp 334 miliar, hancurnya 127,29 hektar lahan pertanian, yang kerugiannya ditaksir mencapai Rp 4 miliar, rusaknya pipa transmisi gas Pertamina, terpuruknya penjualan properti di Sidoarjo, matinya industri tas dan kulit Tanggulangin yang menghasilkan peredaran uang sebesar Rp 1 miliar per hari, serta tutupnya Hotel Grand Bromo di kawasan Probolinggo dan hotel lainnya di kawasan Trawas, Pandaan.

Potensi kerugian di sektor ekonomi semakin membesar apabila pemerintah tidak segera tanggap. Rencana pembangunan ruas jalan tol baru dapat memberikan angin segar, tetapi hal itu menjadi tidak ada artinya apabila ancaman jebolnya tanggul masih menyelimuti. Alangkah baiknya jika upaya penguatan tanggul juga dilakukan.

Segenap masalah inilah yang menyebabkan para pelaku usaha di Jatim semakin pusing. Mereka tidak tahu kapan urusan lumpur usai, sama tidak tahunya mereka akan berapa besar lagi kerugian yang bakal mereka derita akibat letupan lumpur tersebut.

Sepuluh titik tanggul kolam penampungan lumpur di sebelah selatan pusat semburan lumpur Lapindo di Porong kritis. Titik-titik tanggul ini tidak mungkin ditinggikan lagi. Adapun luberan lumpur di titik 42 belum bisa dihentikan karena terbatasnya suplai pasir dan batu. Menurut pengamatan di sepuluh titik tanggul itu, Selasa, jarak antara puncak tanggul dan puncak endapan lumpur di kolam tersisa 5-10 sentimeter. Ketinggian tanggul mencapai 11 meter, ketebalan 4 meter.

Kesepuluh titik tanggul yang kritis itu adalah titik 43, 42, dan 41 di Desa Renokenongo, Porong, titik 41 dan 40 di Desa Besuki, Jabon, titik 39, 38, dan 37 di Desa Kedungcangkring, Jabon, dan titik 24, 25, dan 47 di Desa Jatirejo, Porong. Luas kolam penampungan lumpur di sebelah selatan semburan ini sekitar 100 hektar.

Dalam konteks inilah Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo menyatakan akan semaksimal mungkin mempertahankan kawasan terdampak lumpur sehingga luapan atau rembesan lumpur tak akan merendam kawasan-kawasan di sekitarnya.

Untuk itu, tanggul penahan lumpur dibuat tiga lapis sehingga jika lumpur menembus tanggul pertama, masih ada dua tanggul penahan lainnya. Secara bertahap, ketinggian tanggul juga ditambah sehingga genangan lumpur benar-benar terlokalisasi.

“Lumpur yang meluber dan limpasan air di titik 42 itu terjadi akibat penurunan tanah yang, meski telah diprediksi sebelumnya, tidak dapat diperkirakan kapan penurunan tanah itu terjadi,” ujar Sekretaris Badan Pelaksana Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo Adi Sarwoko, Selasa.

Ia mengatakan, ketinggian tanggul telah ditambah. Diharapkan luberan lumpur dan air keluar dari kolam penampungan lumpur.

Adi, yang juga menjabat sebagai staf ahli Menteri Pekerjaan Umum, menjelaskan, luapan lumpur yang terjadi Minggu lalu masih di dalam kawasan terdampak sehingga diharapkan tidak terlalu merugikan masyarakat sekitar. (APA/NIK/INA/RYO/NAW) Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: