Lebaran dan Visi Transportasi

Ia tidak hanya akan menjadi stasiun kereta api yang megah, tetapi juga akan menjadi tempat belanja dan penyambutan istimewa, selain tempat untuk bertemu yang mengesankan di London” (First Capital Connect, menyambut pembukaan kembali Stasiun St Pancras, London, 2007).

Lebaran 1428 Hijriah sudah lewat, tetapi aktivitas terkait dengan momen tahunan ini belumlah usai. Justru menjelang akhir pekan ini akan terjadi peristiwa yang tidak kecil ditinjau dari skalanya, yakni puncak arus balik. Baik arus mudik maupun arus balik pasca-Lebaran ditandai oleh satu aktivitas masif, yakni transportasi jutaan warga dari kota besar tempat mencari nafkah ke kampung halaman, dan sebaliknya.

Dari tahun ke tahun, pemandangan yang hampir selalu ada adalah pemudik yang berdesakdesakan di stasiun kereta api, dengan banyak di antaranya harus berjuang keras sekali untuk bisa masuk ke dalam kereta. Tak jarang mereka harus melalui jendela WC yang amat sempit karena melalui pintu sudah mustahil karena telah dipenuhi orang.

Fenomena yang selalu muncul dari tahun ke tahun ini setidaknya menyiratkan dua hal. Pertama, sarana transportasi—dalam hal ini meminjam moda kereta api—belumlah mencukupi. Kedua, sarana yang ada tersebut secara kualitas masih terbelakang. Tidak sedikit di antara gerbong kereta yang beroperasi berpenampilan bobrok, karatan, tanpa lampu saat berjalan malam.

Tentu itu kereta kelas ekonomi. Tetapi, bahkan kereta kelas eksekutif pun—seperti Argo Anggrek atau Argo Bromo—belum bisa diperbandingkan dengan kereta eksekutif di negara maju, baik dari sisi kecepatan maupun kenyamanan.

Dengan pengalaman berulang di masa Lebaran, sebenarnya pemerintah, dalam hal ini PT KA, punya peluang besar untuk berinovasi untuk memperbaiki layanan transportasi.

Tanpa itu, dan di luar tekad para pemudik untuk berkumpul dengan sanak saudara di kampung halaman, dan juga para pengguna kereta pada umumnya, dunia perkeretaapian di Tanah Air bukan hanya akan jalan di tempat, tetapi akan mengarah pada kemunduran.

Yang lain lari kencang

Sementara itu, dunia perkeretaapian negara-negara tetangga terus-menerus dipermodern. Seperti pernah diangkat dalam forum ini, tidak lama lagi akan ada kereta cepat Kuala Lumpur-Singapura. Di luar Jepang yang sejak pertengahan dekade 1960-an telah mengoperasikan kereta peluru Shinkansen, negara-negara Asia yang berhasil dalam perekonomian, seperti Korea Selatan dan Taiwan, juga telah memiliki kereta cepat.

Dalam skala dunia, salah satu “biang” kereta cepat, yakni Perancis, terus meningkatkan kecepatan kereta cepatnya yang dikenal dengan nama TGV (Train a Grande Vitesse). Tanggal 4 April 2007 TGV baru yang ditarik dua lokomotif dengan roda lebih besar dapat dipacu hingga mencapai kecepatan 574,8 kilometer per jam di jalur kecepatan tinggi di Perancis timur.

Tentu saja untuk mencapai prestasi tersebut, para teknisi telah bekerja keras selama berbulan-bulan untuk mencapai presisi milimeter dalam geometri jalur kereta.

Sekadar menyebut statistik, selama 26 tahun mengoperasikan kereta cepat, belum pernah ada sekalipun musibah yang menelan korban jiwa. Sementara Webster sendiri sudah melaporkan enam kecelakaan yang menewaskan 60 orang pada apa yang disebut kereta cepat Inggris dalam satu dekade terakhir, padahal kereta tersebut hanya melaju pada kecepatan tak lebih dari 200 kilometer per jam.

Jadi, TGV memang telah dibawa ke level lebih tinggi. Selain tambah cepat, ia juga nyaman dan aman. Bagaimana kita merefleksikan kemajuan ini untuk perkembangan perkeretaapian di Tanah Air?

Untuk kereta dengan kecepatan di bawah TGV, di Eropa ada kereta Eurostar yang melaju dengan kecepatan 300 kilometer per jam, membuat Paris-London bisa dijangkau dalam tempo kurang dari tiga jam.

Inggris yang relatif lebih tertinggal dalam infrastruktur perkeretaapian dibanding Perancis tidak tinggal diam. Ia memutakhirkan jalur dan—seperti disinggung pada awal tulisan ini— menambah daya tarik stasiun terminalnya.

Sebelum ini perjalanan Eurostar di London berawal/berakhir di Stasiun Waterloo. Namun, mulai 14 November nanti, stasiun kereta ini pindah ke St Pancras International. Dengan stasiun baru yang lebih nyaman, dengan koneksi di dan sekeliling ibu kota Inggris lebih banyak, memberi waktu perjalanan lebih pendek, Eurostar diyakini akan lebih menarik dan akan digunakan 45 juta penumpang setiap tahunnya.

Kisah kegemilangan kereta api Eropa tentu bukan berhenti pada Eurostar dan TGV karena di Jerman ada kereta Maglev (Magnetically Levitated). Berbeda dengan kereta biasa yang rodanya berputar di atas rel, Maglev mengapung di atas jalur (guideway) beton sehingga lebih halus dan sunyi dibanding TGV sekalipun. Selain Jerman, sistem Maglev juga ada di Jepang. Maglev pernah mencapai kecepatan 580 kilometer per jam.

Lebaran juga membuat angkutan udara sesak, dan maskapai penerbangan nasional memetik keuntungan besar. Namun di sini pun pengelola tak bisa memberikan “layanan yang jalan di tempat” karena di tingkat dunia tengah berlangsung lomba penyediaan layanan angkutan udara generasi baru.

Dengan menerima pesawat superjumbo Airbus A-380 pertama, Singapore Airlines kini bisa memulai layanan baru, termasuk layanan di atas kelas satu. Pada A-380 yang menyediakan permukaan lantai 50 persen lebih luas dibandingkan pesaing terdekatnya, Boeing 747-400, akan ada 12 privat suite, yang dilengkapi matras tidur skala penuh, dengan dinding-dinding yang dihiasi karya seni.

Prameks

Indonesia masih jauh dari prestasi besar transportasi, tetapi bukan berarti boleh menyerah pada nasib. Sesungguhnya tidak berlebihan kalau reputasi satu pemerintahan Indonesia dipertaruhkan untuk meng-overhaul sistem transportasi yang ada, baik darat, laut, maupun udara. Sukses dalam bidang ini, pemerintahan tersebut akan dikenang dengan kehormatan, karena dengan keberhasilan dan kejayaan transportasi, terbuka pula peluang keberhasilan di berbagai sektor lain, mulai dari rekayasa hingga perekonomian umum.

Kini, negara subur dengan sumber daya alam besar ini baru bisa menyediakan layanan tambal sulam dengan pengoperasian kereta-kereta tambahan, seperti Jakarta-Cirebon, maupun kereta yang melayani Yogyakarta-Kutoarjo yang dikenal dengan nama Prambanan Ekspres atau Prameks. Belum jelas kapan ada TGV yang bisa membuat perjalanan Jakarta-Surabaya bisa ditempuh dalam tiga jam! / Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: