Lumpur Lapindo Meluber Lagi, Di Sekitar Lokasi Masih Ada Kompleks Sekolah dengan 350 Siswa

Sementara banyak pemudik berdatangan untuk melihat langsung semburan lumpur Lapindo, Minggu (14/10) malam, lumpur di kolam penampungan meluber lewat tanggul di titik 42 di Desa Renokenongo, Porong, Sidoarjo.

Tinggi tanggul di titik 42, di samping bekas jalan tol Porong-Gempol itu, 11,3 meter dari permukaan tanah, dengan ketebalan tanggul sekitar 3 meter.

Luberan lumpur melalui puncak tanggul sepanjang 10-an meter itu membuat bekas jalan tol Porong-Gempol yang digunakan sebagai salah satu jalur alternatif dari Jalan Raya Porong, terendam lumpur dan tak dapat digunakan.

Lumpur juga merendam halaman sekolah Taman Kanak-kanak, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah Kholid bin Walid, serta salah satu ruang kelas yang digunakan untuk murid kelas I MI Kholid bin Walid. Tinggi genangan 5-10 sentimeter (cm).

“Untungnya murid-murid sedang libur sehingga kegiatan belajar-mengajar tidak terganggu. Selama masih libur ini, kami berupaya mengeluarkan lumpur dari ruang kelas sehingga saat murid masuk, 22 Oktober nanti, kelas dapat digunakan,” kata Mashudi, Kepala MI Kholid bin Walid.

Menurut Ketua Yayasan Kholid bin Walid Muslich Sholeh, ada 350 murid dan 30 guru yang belajar ataupun mengajar di sekolah itu. Dengan pertimbangan banyak murid itu pula, yayasan sampai saat ini belum mengajukan ganti rugi ke Lapindo.

“Kalau tanah dan bangunan sekolah dibeli sekarang, murid-murid bisa telantar karena tidak punya tempat untuk belajar,” kata Mashudi.

Terendamnya sekolah yang berjarak hanya 200 meter dari tanggul kolam penampungan lumpur terluar itu tidak hanya terjadi kali ini. Oktober 2006, kompleks sekolah ini juga terendam lumpur. Ketika itu, dua dari delapan ruang kelas terendam lumpur cukup parah sehingga tidak dapat lagi digunakan. Sekitar 50 meter dari sekolah itu terdapat juga dua sekolah lain yang masih digunakan, yaitu SDN Renokenongo 1 dan SDN Renokenongo 2.

Dihubungi terpisah, Kepala Humas Badan Pelaksana Badan Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo (BP BPLS) Achmad Zulkarnain awalnya tidak percaya kalau lumpur sudah meluber. Sebab, menurut dia, sampai dengan hari Minggu siang masih ada jarak 50-an cm antara permukaan lumpur dan puncak tanggul.

“Itu berarti terjadi penurunan permukaan tanah tiba-tiba,” ujar Zulkarnain.

Di Jakarta, Ketua Badan Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo Sunarso menyatakan, tanggul yang turun itu sudah diperbaiki dengan memberi tumpukan tanah sampai ketinggian sebelumnya.

“Luberan air tidak mengganggu masyarakat karena lingkungan sekitarnya sudah termasuk peta terdampak dan merupakan tanah kosong yang sudah dibebaskan,” kata Sunarso.

Patahan

Kepala Sub Kelompok Kerja Penutupan dan Penanganan Semburan BP BPLS Handoko Teguh mengatakan, ada tiga area di tanggul kolam penampungan lumpur yang menjadi perhatian utama dari BP BPLS karena sering turun sebagai akibat penurunan permukaan tanah.

Ketiga area itu adalah tanggul cincin atau berada di sekeliling pusat semburan (titik 44 dan 45), tanggul kolam penampungan lumpur di titik 24 dan 25 yang berada di Desa Jatirejo atau sekitar 500 meter sebelah selatan pusat semburan, dan tanggul kolam penampungan lumpur di titik 42 dan 43. “Di titik-titik ini lumpur sering meluber dari tanggul karena tanggul yang turun,” ujar Handoko.

Berdasarkan catatan Kompas, pernah dalam satu hari, tanggul di titik 25 jebol tiga kali. Lumpur pun pernah meluber dari tanggul di titik 43 yang berada dekat pipa gas yang meledak 22 November 2006.

Penurunan tanggul yang terjadi di ketiga area ini diindikasikan karena ada patahan yang berada di bawah permukaan tanah di bawah tanggul-tanggul tersebut. “Reaktivasi dari patahan itu yang membuat terjadi penurunan tanah dan itu gejala alam yang tidak bisa diprediksi kapan akan turun,” tambahnya.

Berdasarkan pengukuran penurunan tanah yang pernah dilakukan tim Institut Teknologi Bandung, penurunan tanah di sekitar pusat semburan mencapai 1,8-3,8 cm per hari.

Meskipun tidak dapat diprediksi kapan reaktivasi patahan itu terjadi, BP BPLS telah mengantisipasi dengan membuat langkah-langkah pencegahan dini, yaitu tanggul-tanggul yang sering turun ditebalkan dengan menggunakan pasir dan batu.

Tidak hanya itu, ke depan, BP BPLS juga akan merekayasa tanggul-tanggul yang mengalami penurunan. “Konsep rekayasa itu sudah masuk ke BP BPLS dan akan kita bahas tentang pelaksanaan dari rekayasa itu di lapangan,” ujar Handoko.

Menurut dia, tanggul-tanggul yang sering mengalami penurunan akan dibuat fleksibel, sehingga tanggul mudah bergeser ke samping atau ke atas dan bawah mengikuti gerak permukaan tanah. (APA/LOK) SIDOARJO, KOMPAS –

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: