Empat Serangkai

Acungan jempol untuk “Safari Lebaran” JK (Jusuf Kalla). “Bos mulai jualan nih,” ujar orang dekat JK, Minggu (14/10), yang ikut ke Makassar.

Ibarat cerita anak, JK memainkan jurus Sekali Tepuk Tujuh Nyawa (kisah tentang jagoan pembunuh nyamuk).

Ia ke rumah MS (Megawati Soekarnoputri) dan disambut slogan “Mega-Kalla”.

JK ke Jalan Cendana menemui Pak Harto, tokoh berpengaruh. “Kepala suku” TNI AD Try Sutrisno disambanginya, Akbar Tandjung ditemuinya.

JK lalu ke Sulawesi. Ia tokoh Iramasuka (Irian, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan) yang pernah unjuk gigi.

Ia juga akan ke Sumatera. Data menunjukkan jumlah pemilih di Iramasuka plus Sumatera minimal 36 juta suara.

SBY juga jualan lewat “Salaman Maraton” dengan sekitar 3.500 orang. SBY menikmati Hikayat Seribu Satu Malam yang kaya cerita, mulai dari Lampu Aladdin, Sinbad Si Kelasi, atau Ali Baba dan 40 Penyamun.

Ia mendengarkan langsung kesulitan rakyat. Hatinya berbunga-bunga bertatap muka dengan rakyat jelata.

SBY dan JK tidak mencuri start. Pilpres Juli 2009 tinggal sejengkal lagi dan, ibarat atlet, mereka perlu siap diri sedini mungkin.

Mereka beruntung ada dalam posisi pemangku jabatan (incumbent). Ada yang bertanya apakah etis pemangku jabatan kampanye meski pilpres 1,5 tahun lagi?

Jawaban yang pas, seperti kata kalimat sakti almarhum Pak Adam Malik, “Semuanya bisa diatur”.

Etika yang berlaku universal tak melarang pemangku jabatan berkampanye. Syaratnya cuma satu: incumbent dilarang memanfaatkan fasilitas jabatan.

Namun, semua negara demokratis sukar menafsirkan wilayah abu-abu ini. Waktu jadi calon presiden pada 2004, misalnya, di dalam tim kampanye MS ada sejumlah pejabat istana.

MS resmi jadi capres dari PDI-P dan paling lambat akhir 2008 punya calon wapres pilihannya. BY (Bang Yos) sudah mengumumkan siap jadi capres meski belum ada parpol.

Safari Lebaran JK dan Maraton Salaman SBY secara tak resmi menggenapi jumlah capres jadi “Empat Serangkai”. Ada spekulasi MS akan mundur dari pencalonan dan SBY belum tentu maju karena berslogan “jika rakyat menghendaki”.

Saya yakin mereka maju. Kalau MS mundur, PDI-P berantakan dan SBY kepada Time dua tahun lalu kadung berkata “in my second term”.

Modus pencalonan Empat Serangkai ini memang beragam. Dalam teori politik ini baru tahap pertama pilpres yang dikenal dengan surfacing atau pemunculan.

Tahap pemunculan biasanya didahului dengan pembentukan “komite penjajak” (exploratory committee) untuk tes pasar dan menarik minat media.

Saran untuk Empat Serangkai, jangan rekrut politisi yang jadi anggota DPR masuk ke komite karena citra cabang legislatif buruk. Dalam tahap ini, Empat Serangkai sebaiknya menjalani ilmu “Tujuh Langkah”.

Langkah pertama, pahamilah rakyat itu réwél. Anggap 2004-2009 “periode koreksi total” karena sebagian rakyat kecewa terhadap kesenjangan antara janji dengan realisasi.

Sebagian pasrah dan enggan nyoblos tahun 2009. Oleh sebab itu, jumlah golput mencapai lebih dari 30 persen dalam Pilgub DKI yang lalu.

Bukan tak mungkin BY dan JK dianggap sebagai harapan baru. Di lain pihak tak mustahil rakyat enggan berjudi dan memandang SBY dan MS capres berpengalaman.

Langkah kedua, Empat Serangkai mesti lolos “uji petik” dan sanggup menjalani ritual politik empiris dan simbolis. Uji petik dan ritualisasi ini makan waktu panjang dan butuh konsistensi.

JK harus Safari Natal, Tahun Baru, Gong Xi Fa Cai, dan Waisak. SBY harus rajin buka pintu istana dan rumahnya untuk “terima tamu” dari berbagai kalangan rakyat.

MS sebaiknya mengubah komunikasi “diam itu emas” jadi “sedikit bicara banyak bekerja”. BY jangan bosan kongko-kongko dengan parpol-parpol dari Sabang sampai Merauke.

Langkah ketiga, rumuskanlah slogan-slogan ampuh. Tentu tak mudah menemukan slogan seperti “lokasi, lokasi, dan lokasi” untuk iklan apartemen.

Tampaknya slogan “Bersama Kita Bisa” tinggal impian saja. Strong leadership juga dianggap gombal.

Langkah keempat, Empat Serangkai harus menyihir rakyat “cinta mati” terhadap mereka. MS beruntung karena pemeo pejah gesang ndérék gusti, JK kebanggaan Indonesia timur.

SBY harus mengubah gaya agar tak disalahpahami gemar “tépé” (tebar pesona). BY capres yang sukar menemukan gaya karena busway bikin masalah.

Langkah kelima, Empat Serangkai harus cerdik menentukan tema-tema kampanye andalan. BY harus bisa menjawab pertanyaan, “Kenapa sih nekat bikin busway?”

SBY, JK, dan MS takkan sulit menentukan tema-tema kampanye karena didukung staf nasional dan fulus yang “enggak ada serinya”.

Langkah keenam, mulailah tentukan musuh. Ini bukan kampanye negatif. Tetapi, seperti kata ABG, “Pédé aja lagi!”

Anggap Indonesia milik Anda, yang lain ngontrak doang. Tak apa-apa mengkritik sepanjang dilancarkan lewat cara-cara bermartabat.

Seperti sepak bola, politik keras tanpa perlu kasar. Ibarat tinju, ada yang kalah KO, ada yang menang angka tipis.

Langkah terakhir, jalinlah hubungan mesra dengan pers.

JK akrab dengan wartawan karena enggak “sok genting”.

MS dikenal “malu-malu sombong”. Jenderal Orde Baru punya kebiasaan buruk, yakni menganggap wartawan seolah anak buah mereka. / Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: