Keselamatan KA, Berteman Kegelapan Malam

Seorang laki-laki tampak berjalan di kegelapan malam. Langkahnya ringan, sesekali badannya menunduk, matanya mengamati rel kereta dengan senter yang menyala di tangan kirinya.

Suhar (49), juru periksa jalan dan rel (JPJ), setiap pukul 23.30, selama setahun terakhir, harus berjalan kaki menyusuri rel kereta api dari Stasiun Jatinegara ke Stasiun Klender, Jakarta Timur, sejauh 3,4 kilometer.

Sebelumnya, selama lebih dari dua puluh tahun, bapak empat anak itu menjadi mekanik rel kereta api di Jatinegara.

Suhar harus melapor dulu ke Stasiun Jatinegera sebelum bertugas. Setelah kartu pas berwarna coklat tua distempel petugas KA, ia mulai memulai tugas rutinnya.

Di antara suara musik dangdut yang dihadirkan untuk pemudik, Suhar menyoroti rel dan perlintasan kereta. Sesekali ia membenahi topi lebarnya sambil mengencangkan baut-baut di wesel atau perlintasan kereta api.

“Ini nih yang bahaya. Kalau bautnya lepas, kereta bisa anjlok,” ujar Suhar, sambil menunjukkan empat baut pengikat baja rel yang kendur.

Sesekali Suhar mengeluh karena baut-baut itu sudah aus dan berkarat sehingga tidak bisa lagi dikencangkan. Dengan susah payah, ia mengencangkan baut-baut itu meskipun akhirnya baut tersebut kembali terlepas dan membuatnya hampir terpeleset karena terlalu kencang menarik baut.

Pekerjaan itu dilakoni Suhar setiap malam. Dengan gaji sekitar Rp 1.800.000, ia rela menghabiskan malam dengan memeriksa detail-detail rel kereta.

“Saya nerima saja, disyukuri saja, yang penting cukuplah buat makan dan sekolah anak,” kata Suhar.

Dengan penghasilan sebagai petugas JPJ, Suhar membesarkan empat anaknya. Dua di antaranya masih sekolah, yaitu STM kelas I dan SMP kelas II.

Tak jarang, Suhar harus gali lubang dan tutup lubang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Terkadang harus pinjam koperasi, lalu dibayar dengan potong gaji,” ungkap Suhar mengenai upayanya mencukupi kebutuhan keluarga.

Meski pekerjaannya sebagai JPJ dirasa lebih berat dibandingkan sebagai mekanik rel, Suhar tak pernah mengeluh. “Ini sudah kewajiban saya. Jadi ya harus dijalani,” tuturnya.

Memeriksa rel di tengah malam memberikan kesan tersendiri bagi Suhar. Tak jarang dia diganggu beberapa orang iseng, termasuk para waria dan pelacur yang banyak berderet di tepi rel. “Kalau enggak kenal dan enggak hati-hati, bisa ditodong,” ujar Suhar.

Selain itu, ia pun harus betah dengan pemandangan mesum tiap malam. Beberapa waria secara terang-terangan melayani pelanggan di tepi rel. Ada pula yang mabuk dan berusaha merayunya.

Bagi Suhar, musim hujan adalah masa-masa yang menyulitkan. Ia harus berjalan di tengah malam dengan guyuran air hujan. Meski sudah melengkapi diri dengan jas hujan, kulitnya tetap merasakan dingin yang menyengat saat angin berem bus.

“Dulu ada teman yang tertabrak kereta waktu hujan. Dia enggak dengar ada kereta yang datang,” cerita Suhar.

Sejak kejadian itu, jika musim hujan tiba, Suhar harus ekstra hati-hati. Untuk itu, ia biasanya berkali-kali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada kereta yang lewat.

Sebagai JPJ, Suhar sering kali menemui rel-rel yang retak. Dengan pengalamannya sebagai mekanik rel, Suhar bisa dengan cepat memperkirakan lokasi kerusakan rel dan melaporkannya kepada stasiun terdekat.

Esok paginya, setelah menerima laporan Suhar, petugas mekanis rel membenahi rel yang dimaksudkan. “Kalau enggak segera dilaporkan, bisa membahayakan keselamatan penumpang,” ujarnya.

Tepat pukul 01.00, Suhar sampai di Stasiun Klender dan melepaskan penatnya.

Di sana sudah ada Edward Prio, petugas jaga Stasiun Klender yang menerima laporan perjalanan. Untuk kedua kalinya, kartu pas berwarna coklat distempel.

Dengan temannya itu, Suhar mengobrol selama lebih kurang setengah jam. Mereka berbincang mengenai banyak hal, terutama persoalan keluarga.

“Ya begini, kalau ketemu teman, ya, curhat. Apalagi kalau bukan soal anak, biaya hidup, dan sesekali soal politik,” ungkap Suhar terkekeh. (A14) Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: