THE GLOBAL NEXUS, “Busway” Sutiyoso Vs “Shinkansen” SBY-JK

Pada Senin petang, 1 Oktober, arsitek busway, Sutiyoso meluncurkan “trayek baru” Merdeka Selatan ke Merdeka Utara, disaksikan konsentrasi pers yang luar biasa. Pada tanggal 20 April 2004, saya menulis kolom berjudul SBY-JK Shinkansen menuju RI-1 dan RI-2. Di situ saya menguraikan perkembangan detik-detik menjelang Pilpres 2004.

Pada tanggal 10 Maret, Secretary of Homeland Security Thomas Ridge bertemu Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan pada tanggal 11 Maret, SBY mengumumkan mundur dari kabinet untuk siap mencalonkan diri. Hanya kampanye selama tiga minggu, SBY mengorbitkan Partai Demokrat masuk lima besar, membuat Megawati dan Taufiq Kiemas terhuyung-huyung, bingung, dan panik.

Kereta Api Shinkansen dikenal sebagai kereta api tercepat sedunia, sebab Mag Lev Jerman, yang konon lebih cepat, tidak pernah beroperasi secara penuh. Karena itulah, walaupun pada kolom April 2004 itu saya menyebut tampilnya Wiranto sebagai capres dalam konvensi Golkar dengan istilah Mag Lev, tapi “Mag Lev” Wiranto gagal menyalip “Shinkansen” SBY-JK.

Pada tahun 2005 saya meninjau Expo Aichi di Nagoya, Jepang, dan Kereta Api Shinkansen yang saya tumpangi dari Nagoya ke Tokyo macet sampai tiga jam. Atau, lebih lama dari jadwal rutin untuk rute Nagoya-Tokyo. Jadi Shinkansen asli Jepang ternyata bisa macet, apalagi “shinkansen” julukan untuk kereta api SBY-JK. Konflik masinis SBY dan wakilnya, atau antara pilot dan kopilot menjadi klasik mirip kisah Tom and Jerry.

Jawaban SBY pada hari Kamis, yang mencoba mencairkan ketegangan politik dengan gaya humor Republik BBM, maybe yes maybe no malah mengundang kekhawatiran elite politik. Apa boleh buat, Sutiyoso sudah menggebrak, maka sekarang agenda dan bola sudah dikuasai Bang Yos dan pemain sepak capres lain harus rela jadi penerima umpan.

Sodokan Sutiyoso yang segera digulirkan oleh para pemain, seperti Ketum PAN mengorbitkan Sri Sultan Hamengkubuwono X, tampaknya memang sulit dicuekkan. Semua orang, termasuk SBY-JK, segera mengatur agenda, barisan, program, dan manuver, kalau tidak ingin dilindas oleh “trayek busway terbaru” Merdeka Selatan Merdeka Utara.

*

Mantan Kepala BIN Hendroprijono yang sekarang menjadi “Karl Rove” (arsitek kemenangan Bush) untuk Sutiyoso menyatakan dengan pede (percaya diri, Red) bahwa Sutiyoso tidak perlu banyak omong atau bicara lima pasal program, cukup bilang bahwa Indonesia akan dibuat jadi seperti Jakarta, pasti menang. Secara diplomatis, Sabam Siagian mengingatkan bahwa lima agenda Sutiyoso itu bernada konservatif, bahkan berhadapan dengan arus demokratisasi dan reformasi.

Memang, kesalahan utama dari reformasi sebetulnya bukan “kebablasan”, tapi seperti kata Marsilam (Marsilam Simanjuntak, Red), justru karena residu sistem dan pola otoritarian Orde Baru masih tetap solid bercokol. Kalau dulu watak itu dimonopoli oleh seorang Soeharto, maka sekarang justru negara dibajak dan disandera oleh elite politik yang menyalahgunakan wewenang untuk memperkaya diri sendiri dan mengakumulasi dana politik merebut kekuasaan yang kembali berpola Soehar- tois dan Orde Baru.

Demokrasi dan reformasi di Indonesia hanya mengganti seorang Soeharto dengan ratusan Soeharto di pelbagai eselon. Karena asas utama dari demokrasi liberal yang menganut supremasi hukum adalah nondiskriminasi dan juga penghentian konflik kepentingan, Jusuf Kalla benar ketika menolak tesis Akbar Tandjung bahwa di negara demokrasi liberal, pengusaha boleh dan berhak masuk politik menjadi penguasa politik. Tapi yang dilupakan oleh Jusuf Kalla, ialah, di AS kalau pengusaha masuk jadi penguasa politik, maka ia bukan hanya mengungkapkan laporan kekayaan kepada KPK lalu ditumpuk begitu saja.

Di AS, Presiden Clinton, Bush, maupun capres Hillary Clinton, kelak harus memasrahkan portofolio bisnis dan asetnya kepada lembaga blind trust management independent. Dengan demikian, selaku presiden dan penguasa politik yang harus memikirkan nasib 315 juta rakyat AS, dia tidak akan mengambil putusan yang hanya menguntungkan perusahaan bisnis atau partainya, melainkan benar-benar memikirkan nasib negara dan bangsa.

Di Indonesia, UU seperti itu tidak pernah ada dan selaku capim KPK, bahkan jauh sebelum seleksi, pada acara Global Nexus Institute 10 April 2007, saya telah mengusulkan pembentukan dan pengundangan UU Anti-Konflik Kepentingan tersebut. Seminar regional yang diselenggarakan oleh KPK pada 6-7 Agustus telah menyimpulkan bahwa Indonesia memerlukan penerapan UU Anti-Konflik Kepentingan tersebut, sebagai upaya menghentikan pembajakan negara oleh penguasa merangkap pengusaha.

Pansel KPK menganggap gagasan itu bukan pekerjaan seorang ketua KPK melainkan tanggung jawab seorang presiden atau partai politik dan DPR. Ketika gagasan itu sampai di tangan capres Sutiyoso, sebetulnya tim sukses menyatakan bahwa gagasan itu akan jadi platform partai dan kampanye capres Sutyoso yang pasti laku. Saya tidak tahu kenapa dalam lima pasal yang diumumkan Sutiyoso, agenda tersebut tidak ter- masuk.

*

Perkembangan dunia sedang berubah cepat secara drastis. Perdamaian Kim Jong-il dan Roh Moo Hyun akan memberi manfaat bagi dua Korea yang berdamai. Rujuk Musharraf-Benazir juga sebagai upaya Pakistan untuk mentas dari bahaya failed state dan keterpurukan ekonomi politik. Kebekuan junta Myanmar adalah akibat konflik geopolitik di mana Beijing, Moskwa lebih berperanan ketimbang Jakarta, atau Tokyo dan Washington sekalipun.

Kegalakan Nicolas Sarkozy mengultimatum Iran, dan darah tingginya Jimmy Carter di Darfur, semua mencerminkan bahwa dunia tidak mungkin dimonopoli oleh satu dua gelintir orang atau negara. Ada semacam the invisible hand yang menjadi sutradara. Tidak sepenuhnya dipahami oleh faham monoteisme “terbelakang” yang diulas oleh buku terbaru Goenawan Mohamad (GM): Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai. Semua tokoh dan negara bahkan yang superpower sekalipun harus menyerah bahwa pada akhirnya skenario dunia akan ditentukan oleh agenda yang secara tidak terencana, menjadi fait accompli.

Gebrakan jalur “Busway” Sutiyoso mengguncangkan “Shinkansen” SBY-JK juga “Mag Lev” Wiranto serta kategori calon 4L (lu lagi, lu lagi). Karena banyak orang selalu menanya kepada saya, bagaimana sebetulnya “restu Washington terhadap capres RI” maka saya jawab dengan tegas, Washington sendiri sedang sibuk mencari restu “Tuhan”. Siapa yang akan diizinkan memerintah superpower AS yang juga penuh intrik di dalamnya.

Hillary atau Rudy Giuliani adalah skenario yang saat ini sangat mungkin ketimbang faktor Obama. Harus dicatat bahwa saking bersemangatnya Senator Obama justru sempat pidato akan mengebom wilayah perbatasan Pakistan-Afghanistan untuk melumatkan basis Osama bin Laden, sekaligus melenyapkan tokoh Osama dari bumi manusia.

Jadi, elite Jakarta mesti lebih jeli memahami seluk-beluk elite AS. Jangan sembarangan pidato. Apalagi kalau elite- nya berkualitas di Senayan pidato anti-AS, tapi sesampai di Washington meminta fasilitas kemudahan untuk keluarga dari AS.

Suatu kemunafikan yang pasti tidak akan “direstui” oleh Tuhan, versi monoteis, ateis, atau versi GM -Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai.

Christianto Wibisono/ Penulis adalah pengamat masalah nasional dan internasional/ Suara Pembaruan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: