Manuver Politik Yudhoyono

Apakah politik mempunyai hati? Apakah politik bisa dilakukan tanpa ketegasan? Pertanyaan itu muncul menyusul langkah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Ketika ditanya wartawan apakah dirinya akan maju sebagai calon presiden pada Pemilihan Umum 2009, Yudhoyono mengatakan, pada saatnya ia akan memutuskan hal itu. Sekarang ia ingin berkonsentrasi terlebih dahulu terhadap tugas yang diemban. Setelah itu ia akan menghitung, apakah dirinya bisa memberikan kebaikan atau tidak kepada bangsa dan negara. Kalau memang bisa memberikan kebaikan, ia akan maju untuk berkompetisi pada Pemilihan Presiden 2009, tetapi kalau tidak bisa memberikan kebaikan, ia tidak akan maju.

Dari sisi kesantunan politik, Yudhoyono menunjukkan apa yang selama ini memang kita idealkan dalam berpolitik. Berulang kali kita mengharapkan agar kekuasaan jangan sekadar sebagai tujuan, sekadar sebagai kepentingan. Kekuasaan harus dipakai untuk melayani dan memperbaiki perikehidupan rakyat.

Karena itulah kita sering mengagungkan kepemimpinan Sultan Hamengku Buwono IX. Almarhum berprinsip, takhta itu ia persembahkan untuk rakyat.

Kita tentu tidak menutup munculnya pandangan lain dari sikap politik Presiden Yudhoyono ini. Bahwa dalam berpolitik itu tidak ada yang samar-samar. Apalagi untuk menjadi seorang pemimpin nasional, harus ditunjukkan ketegasan itu. Ketegasan itulah yang akan menjadi salah satu tolok ukur apakah ia akan mampu atau tidak melaksanakan program kerjanya ketika sudah terpilih.

Penilaian ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari persepsi yang muncul terhadap Presiden Yudhoyono selama ini. Persepsi pemimpin yang sangat hati-hati dan penuh pertimbangan sehingga kadang-kadang mengurangi efektivitas kerja dan hasil kerja.

Namun, dalam politik tidak selalu dua kali dua sama dengan empat. Penilaian orang terhadap manuver politik yang dilakukan Presiden Yudhoyono boleh saja beragam. Penilaian itu bisa dilakukan secara subyektif, bisa juga obyektif. Namun, paling tidak apa yang disampaikan Presiden Yudhoyono saat masa pemerintahan masih dua tahun berjalan, kita anggap tepat dan pas.

Mengapa? Karena kekuasaan dan demokrasi yang ingin kita bangun hanyalah alat untuk mencapai kemajuan bangsa. Kita lihat sekarang ini China yang tanpa demokrasi bisa menjadi sebuah negara maju yang menyejahterakan rakyat. Sebaliknya India dengan demokrasinya juga bisa mengangkat kehidupan rakyatnya. Semua itu akhirnya terpulang kepada kemampuan pemimpin untuk menggunakan kekuasaan guna menggerakkan semua komponen bangsa membangun negara.

Sekarang ini kita melihat perikehidupan rakyat belumlah membaik. Rapat pleno Komisi IV DPR memutuskan jumlah penerima beras untuk rakyat miskin tahun depan meningkat menjadi 19,1 juta rumah tangga dari sebelumnya 15,78 juta. Angka pengangguran juga masih pada tingkat yang sangat membahayakan. Sepantasnyalah apabila konsentrasi kita sama-sama terfokus dulu kepada perbaikan kehidupan rakyat daripada mulai memikirkan kursi kepresidenan. Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: