Sutiyoso dan Pilpres 2009

Setelah sepuluh tahun memimpin DKI Jakarta, menjelang akhir jabatannya sebagai gubernur,Sutiyoso mengumumkan kesiapannya menjadi calon presiden.

Tentu saja pengumuman tersebut merupakan fenomena yang menarik dalam hiruk-pikuk demokrasi politik Indonesia kontemporer. Sutiyoso bisa dianggap kesatria justru karena tidak punya partai politik dan bukan dalam lingkaran partai besar. Dia hanya menunggu lamaran partaipartai dan masih menjadi teka-teki siapa yang akan mencalonkannya. Tentu saja bursa politik menjelang 2009 makin ramai dan petanya kian jelas. Hadirnya Sutiyoso menambah deretan panjang elite politik yang perlu diperhitungkan dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009.

Sutiyoso masih menjajaki berbagai kemungkinan.Posisinya belum sekuat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Megawati Soekarnoputri, atau Jusuf Kalla.Meski begitu,dia bisa menjadi kuda hitam, sosok yang tidak dapat diabaikan begitu saja kehadirannya dalam politik. Jalan yang ditempuh Sutiyoso berbeda dengan Wiranto,misalnya.Wiranto tidak mengumumkan dirinya siap menjadi calon presiden. Dia lebih hati-hati dalam merasionalisasikan rencana-rencana politik. Yang Wiranto umumkan adalah pembentukan Partai Hanura (Hatinurani Rakyat).

Wiranto ingin membangun sistem dan kelembagaan politik melalui partai.Apabila partainya sukses, otomatis dia akan tampil menjadi calon presiden.Tetapi Sutiyoso sebaliknya. Dia umumkan diri siap maju sebagai calon presiden, tapi tak mempersiapkan diri secara khusus mendirikan partai politik sebagaimana Wiranto. Sepertinya Sutiyoso tengah berjudi dengan politik. Namun, justru dengan mengumumkan kesiapannya sejak awal, dari perspektif pemasaran politik dia dinilai telah maju selangkah. Dia mencoba tampil menarik perhatian publik dengan maksud politik yang jelas.

Dengan demikian, publik menjadi maklum, dan mau tidak mau akan memberikan perhatian dan memberikan penilaian. Sutiyoso masih cukup waktu untuk memperbaiki citranya dengan modal-modal yang dipandang melekat padanya. Modal politiknya yang paling penting justru pencitraan orang atas dirinya. Sutiyoso mencoba merebut dan mengisi ruang kosong citra pemimpin nasional yang tegas.Gaya kepemimpinan Sutiyoso berkebalikan dengan SBY yang tampak cenderung amat hati-hati dalam memandang dan memutuskan sesuatu sehingga dinilai lamban.

Sutiyoso dipandang sebagai antitesis SBY. Apakah dengan pencitraan demikian akan mampu mendorong laju politik Sutiyoso secara signifikan? Kubu Sutiyoso pasti akan mempertahankan citra itu dan berupaya keras untuk menangkal penilaian-penilaian bahwa ketegasan Sutiyoso kerap kebablasan. Sepuluh tahun memimpin DKI Jakarta, cukup bagi khalayak untuk menilai kepemimpinan pria asal Semarang ini, plus minusnya. Setiap warga DKI punya subjektivitas tersendiri dalam menilai sosok Sutiyoso.

Publik non-DKI hanya tahu secara tidak langsung dan serbasedikit melalui berita-berita mengenai Jakarta di era kepemimpinannya. Makanya Sutiyoso harus bekerja keras lagi agar lebih dikenal secara nasional. Selain modal pencitraan, modal lain adalah finansial. Pengalamannya memimpin Jakarta selama sepuluh tahun dipandang cukup untuk membangun jaringan yang kuat bagi Sutiyoso untuk menggalang dana bagi pencalonan dirinya. Faktor finansial tampaknya akan menjadi daya tarik tersendiri Sutiyoso.

Selain itu, perlu diperhatikan faktor dukungan elite-elite politik dan masyarakat yang selama ini telah dikenal publik. Sutiyoso membutuhkan figur-figur lain yang mampu menetralisasi “citra-citra yang kurang baik”yang dalam banyak hal dianggap masih melekat padanya. Mereka adalah kelompok referensi yang menjadikan publik memberi penilaian yang “mengangkat”Sutiyoso.

Pilpres 2009

Pilpres 2009 kelihatannya akan lebih seru ketimbang Pilpres 2004. Justru karena publik pernah mengalami peristiwa politik yang bakal diulanginya lagi. Bedanya, pada 2009 publik sudah punya bahan penilaian tersendiri atas para figur incumbent. Sosok-sosok yang terlibat dalam pencalonan presiden 2009, terutama SBY, Jusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri, dan Wiranto, akan terus dinilai oleh publik. Sementara sosoksosok lain seperti Sutiyoso,Sri Sultan HB X, Akbar Tandjung, Hidayat Nur Wahid, dan sebagainya, juga akan dicermati.

Partai-partai politik tampaknya masih akan memiliki posisi strategis,mengingat tampaknya calon independen untuk presiden-wakil presiden belum dapat dibahas dan apalagi ditentukan detail mekanismenya. Partai-partai masih menjadi raja dalam hal ini. Karena itu, gerak-gerik dan manuver partaipartai besar mutlak perlu dicermati, siapa yang akan disuguhkan dalam pilpres. Bagi partai, figur amat penting. Pengalaman pilpres 2004 dan beberapa kali putaran pilkada sejak 2005 mengonfirmasikan hal tersebut. Karenanya, dalam konteks ini, dapat dipahami mengapa Sutiyoso memberanikan diri agar dirinya ditawar partai-partai.

Figur-figur publik dalam politik nasional, tampaknya akan mendominasi pencalonan presiden 2009. Hingga kini belum terdapat “sosok baru” yang sebelumnya jarang dikenal publik (nasional). Tampaknya, masih belum ada regenerasi dalam pencalonan presiden, walaupun hal demikian tidak terjadi di banyak daerah dalam pilkada. Dengan demikian, lagu lama akan berputar kembali, hanya dengan komposisi yang berbeda. Politik memang tidak mengenal sosok lama atau baru. Dinamika politik terkadang dengan cepat menyingkirkan muka-muka lama dalam politik, tetapi adakalanya, sebagaimana terjadi di Jepang, mukamuka lama tampil kembali dalam pentas politik nasional.

Terpilihnya Yasuo Fukuda sebagai perdana menteri Jepang menggantikan Shinzo Abe, menandakan bahwa politisi tua bisa datang kembali. Usia Fukuda kini sudah 71 tahun.Di Indonesia kecenderungannya tampak masih mempertahankan tokoh-tokoh di atas 50 tahun, bahkan 60 tahun sebagai sosoksosok yang masih layak diperhitungkan dalam politik, justru karena kebijaksanaan dan pengalamannya.

Politik Indonesia tampaknya juga masih terbingkai ekses-ekses budaya Timur yang senior dianggap lebih baik, walaupun kalangan yang lebih muda kerap mengkritik sebagai penguatan gerontokrasi politik. Apapun yang terjadi, langkah politik Sutiyoso harus dihargai dalam konteks semangat untuk berdemokrasi secara sehat dan dewasa. Maraknya aktor yang siap menuju pentas kompetisi politik pilpres 2009, harus dimaknai sebagai maraknya demokrasi kita. Meski demikian, jangan sampai bersifat kontraproduktif.Demokrasi kita harus produktif.(*)

M Alfan Alfian Dosen FISIP Universitas Nasional, Jakarta/ Seputar Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: