Dilema Jusuf Kalla

Dua kali Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla dihadapkan kepada posisi yang dilematis. Ia ditanya kesiapannya untuk maju sebagai calon presiden.

Pertama, pertanyaan itu ia terima ketika menghadiri buka puasa Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam. Kedua, ketika menghadiri silaturahim dan buka puasa Partai Golkar dengan pimpinan fraksi DPR.

Kita katakan dilematis karena kita bisa memahami kesulitan yang dihadapi Jusuf Kalla untuk menjawab pertanyaan itu. Sebagai Ketua Umum Partai Golkar, yang merupakan partai pemenang Pemilu 2004, mustahil ia tidak menyatakan kesiapannya untuk dicalonkan sebagai presiden pada pemilu mendatang. Namun sebagai Wapres, ia menyadari pentingnya menjaga perasaan dan jangan sampai timbul salah penerimaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas jawabannya.

Apalagi kita tahu dalam beberapa kesempatan Wapres selalu mengatakan bahwa sekarang ini bukan saatnya untuk berbicara soal kursi kepemimpinan nasional. Terutama bagi dirinya dan Presiden Yudhoyono, sekarang ini lebih baik menyelesaikan tugas tanggung jawab pembangunan yang dibebankan kepada mereka. Kemampuan untuk bisa memenuhi tuntutan masyarakat itulah yang merupakan kunci apakah kelak rakyat akan memberikan kepercayaan lagi atau tidak.

Namun, kita bisa memahami kalau Jusuf Kalla tidak bisa mengelak dari pertanyaan soal pencalonannya sebagai presiden. Ketika pilihan jawaban Jusuf Kalla, mungkin saja ia berpisah dengan Presiden Yudhoyono di Pemilu 2009, kita menilai itu pilihan yang bijaksana. Dengan kata lain, mungkin bukan mustahil apabila keduanya kembali maju berpasangan di pemilu mendatang, meski mungkin saja ia juga jalan sendirian.

Semua itu tentunya sangat tergantung dari keadaan politik dan hasil pemilu nanti. Apalagi kubu Presiden Yudhoyono sendiri sudah memberikan sinyal kalau-kalau tidak maju lagi bersama dengan Jusuf Kalla. Paling tidak Partai Demokrat sudah melemparkan bola untuk mencari orang yang akan mendampingi Yudhoyono di pemilu mendatang.

Terhadap semua niatan dari banyak orang untuk maju sebagai calon presiden, kita ingin mengingatkan kondisi riil yang dihadapi masyarakat. Paling tidak, setelah 10 tahun reformasi ini berjalan, masih banyak warga bangsa yang hidup dalam kemiskinan dan masih dihadapkan kepada pengangguran.

Itulah yang harus menjadi perhatian dari para calon pemimpin, terutama kepada pasangan Presiden dan Wapres sekarang ini. Konsentrasi terhadap tugas yang harus dilaksanakan tidak boleh berkurang. Ini penting untuk menjadi contoh bagi para menteri yang memiliki afiliasi kepada partai politik dan pada masanya nanti pasti akan lebih banyak disibukkan untuk berkampanye bagi partainya daripada memikirkan pekerjaannya.

Demokrasi dan perebutan kursi presiden pada akhirnya harus mampu membawa perbaikan bagi perikehidupan rakyat banyak. Tanpa itu semua apa yang kita kerjakan selama 10 tahun terakhir ini hanya akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka. Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: