Sutiyoso Capres 2009!

Sudah lama terdengar beritanya bahwa Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso akan mencalonkan diri sebagai calon presiden independen pada Pemilu 2009.

Ketika akhirnya ia mengumumkan secara resmi pencalonannya, peristiwa itu menjadi berita besar. Ada berita yang lebih besar dari pengumuman akan menjadi capres 2009 itu. Mengapa?

Oleh karena acara pencalonannya dihadiri tokoh-tokoh yang ikut mengangkatnya, seperti Gus Dur dan Try Sutrisno. Atau ada faktor-faktor lain?

Faktor lain ada. Di antaranya, mungkin karena kontrasnya sosok Sutiyoso dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Perbedaan mencolok itu bahkan sudah pula menjadi pembicaraan masyarakat. Sutiyoso dikenal terus terang, berani bahkan memberi kesan ngotot, tegar, keras, tetap ngotot biarpun ibaratnya dimaki orang.

Kelebihan Sutiyoso ibaratnya justru anggapan orang tentang kelemahan Susilo Bambang Yudhoyono: baik, pintar, berkesan tidak tegas, sehingga dipandang tidak efektif. Masuk akal, jika adanya kontra semacam itu “mencuatkan” pencalonan capres Sutiyoso. Hal itu tampak dari liputan dan komentar media dan pembicaraan.

Faktor lain, hadirnya dalam masyarakat sikap ingin tahu dan menunggu siapa-siapa lagi capres-capres itu, terutama yang baru. Terhadap muka lama tampaknya ada tanggapan yang kurang antusias.

Tentu saja, reaksi terhadap pencalonan diri Sutiyoso selanjutnya akan membangkitkan berbagai pertanyaan lanjutan. Berani amat, mencalonkan diri, biarpun tak ada partai terkenal yang menjagokannya.

Pada waktunya akan muncul pertanyaan yang lebih kritis. Berani dan tegas memang penting, tetapi diperlukan juga cerdas dan bijaksana. Dengan kata lain, akan tampil sebagai bahan pembicaraan publik kualitas dan sifat-sifat lain yang diperlukan oleh seorang pemimpin negara dan pemerintahan.

Pengumuman Sutiyoso sebagai capres membawa manfaat, yakni perhatian publik terhadap sosok, karakter, dan kualifikasi seorang capres. Bagi incumbent dan para calon baru termasuk oleh para pendukungnya juga akan berkembang pemikiran dan kriteria lebih lengkap dan lebih relevan bagi putra bangsa yang merasa terpanggil maju sebagai capres.

Apa boleh buat, demikianlah kita hidup dalam zaman demokrasi. Kehidupan, ya bekerja ya berpolitik. Dari pengalaman sejarah kita dan sejarah bangsa lain, betapa pun hadir beragam dinamika dan arah, politik akhirnya harus juga membuat bekerja lebih efektif. Politik menjadi bagian dari karya yang kreatif, produktif, dan memperbaiki perikehidupan rakyat banyak.

Itulah tugas paling utama siapa pun yang akan terpilih sebagai presiden kelak. Pada negara yang demokrasinya sudah mapan pun memang tidak pernah didapatkan presiden yang ideal. Namun ia tetap akan dikenang sebagai pemimpin besar ketika mampu memperbaiki perikehidupan rakyat banyak.

***

sumber: Surat Kabar Harian Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: