Lingkaran Setan Dusun Sidowayah…

Boimin (42) sepenuhnya bergantung pada orangtuanya, Mbah Saimun (70) dan Mbah Katir (70). Ia tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain. Suara yang keluar dari mulutnya hanyalah erangan.

Boimin merangkak dengan tangan dan kakinya, tanpa mengenakan pakaian. Saat berhenti merangkak, kedua kakinya dilipat menyamping. Wajahnya dimiringkan seperti ingin tahu apa yang terjadi di sekitarnya.

Ia sehari-hari berdiam di rumahnya di Dusun Sidowayah, Desa Sidoharjo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Sesekali ia merangkak di sekitar rumahnya yang berdinding gedek.

Boimin dan 100-an warga dusun itu mengalami berbagai gangguan kesehatan, dari gondok, kerdil, idiot, hingga lumpuh. Ini karena warga dusun itu tidak mengonsumsi garam beryodium. Kemiskinan yang membelit membuat mereka tak memikirkan masalah kesehatan.

Di keluarga pasangan Saimun-Katir, bukan hanya Boimin yang menggantungkan hidup sepenuhnya kepada orangtua yang sepuh. Dari tujuh putra pasangan Saimun-Katir, tiga di antaranya idiot dan satu “bodoh”.

Soeran (50-an), putra tertua, bisa berdiri dan berjalan normal, tetapi tampak memelas. Orangtuanya menyebutnya mendo. Kendati demikian, Soeran yang tingginya 140 cm itu masih bisa diminta membersihkan rumput menggunakan arit.

Putra kedua pasangan itu diberi nama Kampret. Lelaki 40-an tahun ini duduk dengan tangan terkulai. Kadang kepalanya dimiringkan saat memerhatikan sesuatu. Ketika tersenyum, terlihat gigi-giginya yang kecil-kecil dengan jarak yang renggang. Sehari-hari Kampret duduk di kursi dari balok kayu kasar di depan rumah berukuran 14 meter x 6 meter itu.

Saat ditemui, Senin (24/9), Kampret yang mengenakan kaus lusuh berkerah warna merah dan celana panjang biru yang tidak kalah lusuh juga tidak dapat berkomunikasi atau bekerja. Begitu juga anak ketiga Saimun-Katir, Sainem. Sainem tidak dapat berkomunikasi. Namun, ia dapat berdiri dan berjalan seperti biasa. Boimin yang putra keempat praktis hanya dapat bergerak dengan kedua tangan dan kakinya.

Menurut Katir, bukan sekali-dua kali dirinya mencari pengobatan kepada paranormal. Bahkan, ia pernah mengunjungi paranormal di Pacitan. Namun, semuanya tiada hasil. Saimun pasrah dengan kondisi keluarga mereka. “Niku kersane sing Kuoso (Ini kehendak Yang Mahakuasa),” ujarnya. Yang membuatnya getir, ia tidak dapat menikahkan empat anaknya itu. Untungnya, di balik kepahitan tersebut, tiga putra terkecilnya, yaitu Soerah, Wiji, dan Yaiman, tumbuh normal. Dari ketiganya, pasangan ini mendapatkan lima cucu.

Dusun Sidowayah yang berada di kaki Gunung Rajekwesi sangatlah tandus. Wilayah ini berbatasan dengan Pegunungan Kapur Selatan yang tampak gundul. Hamparan tanah di kawasan itu tidak mengandung yodium, bahkan sayur yang ditanam pun rendah kandungan mineralnya.

Umumnya warga menanam ketela, yang hanya bisa dipanen sekali setahun. Tiwul dari gaplek (ketela yang dikeringkan), makanan utama warga di dusun itu. Di halaman atau atap warga, terdapat onggokan ketela yang dijemur. Ketela jadi makanan pokok dan bisa ditukar bumbu dapur dan beras. Warga menanam padi gogo di musim hujan, tetapi tidak berarti. Menurut Tukijan (21), padi gogo tidak cukup untuk makan sehari-hari. Saat memerlukan beras untuk campuran tiwul atau gaplek, gaplek dijual seharga Rp 800-Rp 900 per kg.

Menurut Kepala Puskesmas Jambon dr Pretty Briliant, pada 1998 terdapat 190 warga kekurangan yodium di Desa Krebet. Desa ini terdiri dari enam dusun yang sejak 11 September 2007 dimekarkan menjadi dua desa, Krebet dan Sidoharjo. Dusun Sidowayah menjadi bagian dari Desa Sidoharjo.

Ini membuat Andika (8) yang tidak sekolah tidak terdata sebagai penderita kekurangan yodium parah. Putra Jemani (25) dan Supini (22) itu hanya bisa berjalan dengan memindahkan kedua telapak tangan dan kakinya. Kendati tampak bodoh, Andika masih bisa mengerti jika ada yang berbicara dengannya.

Jemani mengatakan, gejala kelainan pada Andika mulai terlihat saat ia berusia delapan bulan. Andika muntaber, tetapi tak bisa ditangani. Puskesmas berjarak 20 kilometer dari dusun itu. Runyamnya, saat itu, kendaraan bermotor atau angkutan tidak ada.

NINA SUSILO / Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: