Yang Dekat, yang Khianat

Pukul 08.00 pagi. Nimis Setiana (29), atau yang biasa dipanggil Ayu, duduk di sudut kamar kosnya, menunggu orang mengantar tiket bus yang telah dipesan sehari sebelumnya. Semua bajunya telah dimasukkan ke dalam tas merah besar. Sesekali dia mengelus perut buncitnya.

Hampir tujuh bulan jabang bayi itu berdetak dalam rahimnya, sementara sang pacar yang telah menanamkan benih kehidupan menghilang entah ke mana. Kenangan manis bercampur dengan gundah dan amarah.

Lamunannya buyar ketika pintu kosnya diketuk. Seorang lelaki tak dikenal berdiri di depan pintu. “Ini barangkali orang yang mengantarkan tiket,” gumam Ayu. Namun, lelaki itu ternyata menawarkan hal yang sama sekali lain. “Kamu Ayu, kan? Saya dengar kamu sedang hamil, kasihan kalau anakmu lahir tanpa ayah,” kata lelaki bertubuh gemuk itu.

Ayu gamang. Bayangan tentang tatapan sinis orang-orang di kampung halamannya di Manna, Bengkulu, terhadap anak tanpa ayah yang dikandungnya bercampur dengan simpati yang datang dari sosok lelaki yang baru dikenalnya.

Hari-hari berikutnya, lelaki yang mengaku bernama Subhan (32) atau biasa juga dipanggil Jacky itu selalu datang. Membawa makanan, dan perhatian. “Kamu harus banyak makan bergizi agar bayi ini lahir sehat,” kata Jacky. Hingga suatu hari, Jacky mengutarakan niat untuk menikahi Ayu. “Biarlah anakmu nanti punya ayah,” kata Jacky.

Hati Ayu pun luruh. Akhirnya, menjelang sembilan bulan kehamilannya, mereka menikah di hadapan penghulu kampung. Jacky selalu di sisinya hingga kelahiran putri “mereka”. Jacky memberi nama bayi itu Nur Hasanah. Sebuah nama yang berarti cahaya kebaikan. “Nama itu diambil Jacky dari kitab suci,” kata Ayu.

Jacky tak hanya perhatian kepada Ayu. Kepada Nur Hasanah, yang biasa dipanggil Ana, perhatian itu lebih besar lagi. Dia juga sangat terampil mengurus bayi, mulai memandikan, menceboki, hingga memakaikan bedong. “Hingga usia dua pekan, saya hanya dua kali memandikan Nur. Selebihnya Jacky yang melakukannya,” kisah Ayu.

Ayu sempat heran, dan beberapa kali bertanya kepada Jacky, dari mana keahliannya merawat bayi, padahal dia mengaku belum pernah menikah dan punya anak. Namun, jawabannya selalu kabur. Jacky lihai mengalihkan tanda tanya itu dengan kasih sayang. Ayu melalui hari-hari dengan bahagia. Jacky menjadi suami dan ayah yang sangat baik.

Hingga Selasa (18/9) malam, saat usia Ana dua pekan, Jacky meminta Ayu membeli lauk ke warung. Nur masih lelap tertidur setelah kenyang menetek. Ayu melenggang ke warung dengan uang Rp 10.000 pemberian Jacky. Tak ada prasangka apa pun di hati Ayu.

Segalanya berubah ketika Ayu kembali dari warung, 15 menit kemudian. Ana tak ada lagi di tempatnya. Ayu masih belum curiga. “Ana di dalam, Bang?” tanya Ayu, saat mendengar suara air dari kamar mandi. Jacky keluar dari kamar mandi dengan kaget. “Tidak, Abang tadi mandi,” kata Jacky.

Ayu mulai panik, dan bergegas ke tetangga dan abang kandung, yang tinggal tak jauh dari kosnya.

Namun, Ana seperti menghilang ditelan bumi. Kampung Kelapa Indah, Cikokol, geger. Ditemani abangnya, Ayu melapor ke Kepolisian Sektor Kota Tangerang, sedangkan Jacky sudah berjam-jam pergi dengan alasan mencari Ana.

Berawal dari hilangnya tas merah milik Ayu, polisi akhirnya menemukan titik terang: Jacky-lah yang membawa pergi anak tirinya itu. Jacky pun tak bisa mengelak saat diinterogasi. Dari Jacky, polisi menemukan Leni Fredika, warga Perumahan Bugel Indah, Kota Tangerang, yang “menadah” Ana. “Saya tak mengira sama sekali. Dia yang selama ini baik ternyata tega menjual Ana,” kata Ayu.

Ayu pun mulai tersadar, Jacky sengaja dari awal hendak menjual bayinya sejak awal kedatangannya yang misterius itu. “Mungkin dia memang bagian dari sindikat perdagangan bayi yang sudah profesional. Lagi pula, seharusnya dari awal saya curiga karena tiba-tiba dia datang hendak mengawini saya,” keluh Ayu, yang siang itu Kompas temui di rumah kos abangnya di Cikokol.

Sindikat

Pukul 09.00 pagi, Rabu (26/9). Di ruang pemeriksaan Polsek Kota Tangerang, seorang perempuan paruh baya duduk di sudut ruangan. Kulitnya putih dengan rambut lurus yang dicat kemerahan. Kuku kakinya dicat rapi, warna perak. Mata sipitnya sedikit bengkak karena kurang tidur. Sudah sepekan ini Leni ditangkap polisi dengan tuduhan membeli Nur Hasanah dari Jacky.

Leni Fredika dikenal sebagai tukang kredit kosmetik dan pakaian keliling. Pelanggannya kebanyakan adalah wanita-wanita malam. Di lingkungannya, Leni yang biasa dipanggil “mama” ini dikenal sebagai penampung bayi.

“Biasanya ia menjual bayi-bayi itu ke luar Jawa, misalnya ke Kalimantan. Harganya tergantung kondisi bayi. Jika bayinya bersih dan cakep, harganya lebih dari Rp 5 juta,” kata seorang lelaki, yang mengaku pernah ditawari bayi oleh Leni.

Namun, Leni yang berasal dari Surabaya dan sudah 15 tahun di Jakarta ini mengaku hanya menjadi perantara. “Saya dipesan oleh Afo, warga Jembatan Lima, Jakarta Barat,” kata dia.

Menurut Leni, Afo-lah yang memintanya mencarikan bayi-bayi dari keluarga tidak mampu atau bayi yang tidak diinginkan untuk dirawat oleh keluarga kaya. Afo menjanjikan akan membayar Rp 3,5 juta tiap bayi.

“Daripada mati atau telantar, lebih baik anak-anak itu dipelihara orang kaya,” kata Leni.

Benarkah nasib bayi-bayi itu lebih baik di tangan orang lain? Adakah dia rela jika bayi yang diperdagangkan itu anak kandungnya sendiri? Leni hanya membisu saat ditanya hal itu. “Saya tak tahu,” kata Leni sambil menunduk.

Polisi kemudian berhasil menangkap Afo, tetapi barang bukti berupa bayi di rumah Afo tak didapat polisi. Akibatnya, sekalipun berhasil menggelandang Afo, dengan bukti sejumlah tempat tidur bayi, baju-baju bayi, dan berbagai perlengkapan bayi lainnya, polisi kemudian melepaskan Afo lagi.

“Kami belum punya cukup barang bukti walau Afo sudah mengaku pernah mendapat dua bayi dari Leni lalu menyerahkan bayi-bayi itu kepada Lily,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Tangerang Komisaris Suyudi Ario Seto.

Suyudi menambahkan, pengungkapan sebuah jaringan perdagangan manusia memang sangat berat. Pelakunya bisa siapa saja, dan banyak di antaranya justru orang terdekat korban.

“Mereka punya jaringan yang luas dan kuat. Sifat hubungan antarmereka biasanya jaringan terputus. Artinya, satu anggota tak mengenal anggota di tingkat lebih tinggi dari jaringan itu,” kata Suyudi. (IRN/TRI) Oleh Ahmad Arif / Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: