Mereka Bocah Polos Tanpa Dosa…

Sekujur tubuh Nur Hasanah alias Ana (3 minggu) dipenuhi bercak-bercak merah mirip jerawat. Di keningnya membekas garis memerah. Bercak dan garis merah itu adalah “oleh-oleh” dari ayah tiri yang juga penculiknya, Jacky alias Subhan. Jacky memasukkan Ana ke dalam tas travel.

Nimis Setiana alias Ayu (29), ibu Ana, menceritakan, meski hanya sehari berada di tangan penculik, Ana sedikit berubah. Bocah kecil itu tidak lagi mau minum air susu ibu (ASI). Ana juga menangis keras saat ditidurkan di ranjang bekas penculikan dulu. “Enggak tahu ya, mungkin anak sekecil ini juga sudah bisa merasa,” kata Ayu.

Selepas diculik, bukan simpati yang diperoleh, melainkan caci maki. Ayu diusir dari rumah petak kontrakannya dan Ana dianggap sebagai pembawa sial. “Anak ini kan enggak berdosa, masih polos. Masa dituduh sebagai pembawa sial,” ujar Ayu yang berniat pulang kampung setelah kasus ini selesai.

Hanya niat bersaksi dan membantu kerja polisi membongkar jaringan Leni, anggota sindikat penculikan anak, yang membuat Ayu bertahan di Tangerang. “Saya ingin jaringannya terbongkar agar tak ada anak lain yang bernasib seperti Ana,” tegasnya.

Ana masih beruntung karena berhasil diselamatkan dan kembali ke pangkuan ibunya. Dua anak di Panti Asuhan Yayasan Sayap Ibu, Rachel (4) dan Hosea (3), terpaksa tinggal di panti karena keberadaan kedua orangtuanya tidak diketahui. Mereka adalah dua dari 25 anak yang berhasil diselamatkan dari Yayasan Pancaran Kasih, pimpinan Sri Slamet Mandagi, tiga tahun lalu. Yayasan itu dicurigai melakukan praktik adopsi ilegal. Sri pun ditahan.

Ke-25 anak itu akhirnya dititipkan di Yayasan Sayap Ibu. Dua di antaranya sudah bertemu dengan orangtua dan 21 anak lain sudah diadopsi secara resmi. Kecuali, Rachel yang tunanetra serta Hosea yang kurang gizi dan sakit-sakitan.

Afrinaldi, mantan pegawai Departemen Sosial, yang mengungkap banyak kasus perdagangan anak, mengatakan, perhatian terhadap korban perdagangan anak memang sangat kurang. Penampungan anak-anak korban penculikan juga kurang memadai.

Bukan hal mudah

Diakui, pengungkapan sebuah jaringan perdagangan manusia bukan hal mudah. “Mereka punya jaringan yang luas dan kuat. Sifat hubungan antar-mereka biasanya jaringan terputus. Artinya, satu anggota tak mengenal anggota di tingkat lebih tinggi dari jaringan itu,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Tangerang Komisaris Suyudi Ario Seto.

Sifat kaki tangan jaringan yang luas, bisa antarkota, antarprovinsi lalu antarnegara, membuat sebuah wilayah kepolisian tak akan mampu bergerak sendirian menanganinya. Maklum, tenaga reserse dan penyidik di tingkat polsek jumlahnya amat terbatas, sementara mereka tak hanya sedang menangani kasus perdagangan bayi itu.

Begitu juga perlu ada koordinasi cepat dan tepat antara polres dengan polda. Itu sebabnya, tersangka perdagangan bayi Ana, Leni dan Subhan alias Jacky, sempat dibawa ke Polres Metro Tangerang untuk gelar kasus. Dari sana kemudian terungkap, ada bagian sindikat lain di atas Leni, yakni Afo, warga Jembatan Lima, Jakarta Barat.

Polisi berhasil menangkap Afo, tetapi tidak mendapat barang bukti. Akibatnya, sekalipun berhasil menggelandang Afo bersama tempat tidur beserta baju-baju dan perlengkapan bayi yang diambil dari rumah lelaki itu, polisi tak berani menahannya.

“Kami belum punya cukup barang bukti walau Afo sudah mengaku pernah mendapat dua bayi dari Leni lalu menyerahkan bayi-bayi itu kepada Lily,” lanjut Suyudi. Sayang memang. Semestinya kasus perdagangan bayi itu bisa dikembangkan untuk mengungkap jaringan lebih besar lagi! (irn/aik/tri) Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: