Dua Tahun Mencari Si Buah Hati

Wajahnya langsung tertunduk begitu mengingat Muhammad Thufail Taufikurrahman, anaknya. Telah dua tahun, Daffa, panggilan bayi laki-laki itu, hilang dari dekapannya. Berbagai upaya ia lakukan. Namun, bocah itu tak jua kembali. Kala ada kasus penculikan bocah yang dengan singkat bisa diungkap, ia pun bertanya dalam hati, mungkinkah Daffa tak kembali karena ayahnya pedagang angkringan…?

Sanny Setiawan, begitu pria kurus itu disapa. Sore itu ia terlihat begitu lelah. Tak sedikit pun ia membayangkan akan mengalami kejadian yang sepahit ini. Sejak meninggalkan Bandung, tanah kelahirannya, Sanny (31) merantau ke Yogyakarta mengikuti Sri Handayani, pujaan hatinya. Kisah cinta mereka membuahkan bocah lelaki putih bermata bening, Daffa.

Sambil menunggu Andan, sapaan sang istri, menyelesaikan tugas akhir di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS), Sanny menyambung hidup dengan berjualan di Yogyakarta. Penjualan “nasi kucing” dan minuman hangat itu memberi penghasilan bersih antara Rp 50.000 hingga Rp 80.000 per hari.

Tanpa diduga, usaha angkringan ini menjadi awal petaka. Salah satu langganan memperkenalkan Sanny kepada Drs Heru Suharsono SH MH. Waktu itu, Heru disebut sebagai Komisaris PT Gabsa Properti yang berkantor di Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Heru lalu menawarkan pekerjaan kepada Sanny. Janjinya, Sanny akan dipekerjakan di perusahaan di Jakarta bersama mertua Heru.

Lambat laun, rasa percaya mulai merasuki hati Sanny dan Andan. Hingga suatu ketika, tepatnya tanggal 10 Oktober 2005, Heru mendengar keluarga Sanny kesulitan keuangan. Mereka terlambat membayar kontrak rumah sebesar Rp 700.000. Mendengar kesulitan itu, Heru serta merta menawarkan bantuan keuangan. “Pakai uang saya saja dulu,” kata Sanny menirukan Heru.

Keesokan harinya, 11 Oktober 2005, Sanny langsung mengambil uang bantuan itu ke kantor Heru. Sore harinya Sanny dan keluarga diundang Heru untuk berbuka puasa bersama di Restoran Dixie, Gejayan, Yogyakarta. Tanpa rasa curiga sedikit pun mereka mengizinkan Lisya, istri Heru, menggendong Daffa.

Selama ini Lisya sering curhat kepada istri Sanny perihal tidak punya anak. Malam itu, mereka minta izin membawa pulang Daffa sehari. “Sepertinya kami dihipnotis. Entah mengapa kami kok begitu saja melepaskan. Sesaat kemudian istri sadar, jangan- jangan mereka sindikat penculikan anak. Malam itu kami ingin langsung mengambil Daffa, tetapi mengingat kebaikannya, kami ragu sendiri. Esok paginya baru kami datang ke rumah Heru dan rumah itu sudah kosong,” katanya.

Upaya mengejar Daffa langsung dilakukan. Heru dan istri ditemukan sedang berada di bengkel masih di sekitar Jalan Kaliurang. Namun, tanpa diduga, sambil mengaku sebagai Polisi, Heru dan Lisya langsung membentak Sanny dan istri. “Kalau mau ambil anakmu, bayar dulu Rp 700.000,” ujar Heru. Sanny balas membentak dengan mengatakan, anaknya bukan jaminan utang.

Malam itu, Sanny mencari dana. Begitu terkumpul Rp 700.000, esoknya ia kembali menghubungi Heru. Sanny diminta menunggu di bandara karena Heru akan ke Jakarta. Tetapi tunggu punya tunggu Heru tak muncul. Heru justru mengatakan sudah sampai perbatasan Wates karena batal naik pesawat. Sanny diminta menyusul ke Jakarta jika ingin mengambil anaknya. Heru memberi alamat di Jalan Haji Ung, Kemayoran.

Hari itu juga Sanny berangkat ke Jakarta. Namun, kembali ia terkejut karena alamat yang diberikan Heru adalah bekas bongkaran dan gusuran Pasar Kemayoran. “Sejak itu saya kehilangan jejak Daffa,” ujarnya memelas.

Ingin bertemu menteri

Sepulang dari Jakarta, Sanny melaporkan seluruh kejadian kepada Kepolisian Sektor Sleman, DIY. Sayang, semua laporan itu tidak membawa hasil. Lebih parah lagi, ia justru dituduh menjual anak. Andan, sang istri, pun pernah dijemput di rumah kosnya dan dibawa paksa ke kantor polisi karena tuduhan tersebut.

Sangat bisa dimengerti bahwa Sanny pun akhirnya naik pitam. Segala upaya telah ia lakukan. Dari menjual seluruh harta benda hingga tak punya apa-apa, menempuh ratusan ribu kilometer, hingga melapor ke semua pihak berwenang. Lebih dari sekali ia mengirim surat kepada Presiden, Wakil Presiden, Kepala Polri, hingga Ibu Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta.

Sanny melengkapinya dengan membuat ratusan selebaran berisi gambar Heru, si penculik, berikut serentetan kejahatan Heru dan foto Daffa, yang diambil tiga hari sebelum diculik. Namun, kembali ia dihadapkan pada kenyataan hampa.

“Sudah dua tahun Daffa belum juga kembali, apakah karena saya hanya pedagang. “Saya ingin bertemu Bu Meutia Hatta. Saya tidak ingin minta uang, saya hanya ingin penculik sadar dan mengembalikan anak saya. Dan, saya hanya ingin Bu Meutia bicara sehingga para polisi bergerak untuk mencari anak saya…,” kata Sanny lirih. Harapan yang sebenarnya tak terlalu tinggi jika setiap hati terketuk oleh kisah ini. (Soelastri Soekirno/ Khairina)

Oleh Rien Kuntari/ Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: