Beragam Cara Menculik Anak

Bukan main gembiranya Ny Nur (29) ketika bisa bertemu kembali dengan anaknya, Dimar Ardiansyah (2,5). Anak laki-laki berwajah menawan ini didekapnya erat-erat. Sesekali ia ciumi kedua pipi anaknya untuk melepas rindu, seolah tak rela melepas buah hatinya kepada siapa pun.

imar alias Erik adalah salah satu korban penculikan anak yang dilakukan pembantunya, Ijah (19), pada Selasa (11/9). Berdalih akan diajak jalan-jalan, Ijah yang baru tiga hari bekerja meminta izin kepada majikannya, Ny Nur, yang tinggal di Kelurahan Sukabumi Utara, Jakarta Barat, untuk membawa Dimar. Namun, setelah dizinkan, hingga larut malam, Ijah dan Erik tak kunjung kembali.

Sementara itu, Ijah yang membawa Dimar dari Slipi menggunakan bus tujuan Merak kebingungan karena uangnya sangat tipis. Dia pun diturunkan awak bus di sekitar Pasar Ciruas, Kabupaten Serang. Ijah juga sempat meminta uang dan makanan ke sebuah warung di pinggir jalan untuk sekadar mengganjal perut.

Warga yang semula iba justru menjadi curiga karena Ijah tak tahu tujuannya di Serang. Warga pun semakin curiga karena wajah Ijah tak ada kemiripan sama sekali dengan wajah anak yang digendongnya, dia pun tidak membawa perlengkapan bayi.

Ijah pun akhirnya diserahkan kepada polisi. Dari sinilah kedok kejahatan Ijah, yang akan menjual bayi yang baru diculiknya, terbongkar. Dimar yang lucu dan menawan hati pun akhirnya dipertemukan dengan orangtuanya, Kamis (13/9) di Markas Kepolisian Resor Metro Jakarta Barat, setelah dinyatakan hilang selama dua hari.

“Saya akan lebih berhati-hati menghadapi orang yang baru dikenal,” kata Ny Nur sambil mendekap hangat anaknya.

Beragam modus

Penculikan yang dilakukan oleh pembantu rumah tangga hanya salah satu dari sekian banyak modus penculikan terhadap bayi dan anak-anak. Modus operandi penculikan pun terus berkembang sehingga korban terkadang tak merasa sedang menjadi incaran penculik.

Selain modus yang terus berkembang, kasus penculikan pun tergolong tinggi. Kepala Kepolisian RI Jenderal (Pol) Sutanto dalam Rapat Kerja dengan Komisi III DPR, Senin (17/9), mengatakan, selama Januari-September 2007 tercatat 309 kasus penculikan baik terhadap orang dewasa maupun anak-anak. Angka ini memang menurun dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2006, yang tercatat 414 kasus.

“Namun, angka ini tetap saja tergolong tinggi. Adapun kasus penculikan anak-anak sebagian besar merupakan perebutan anak dalam keluarga,” kata Kepala Polri.

Tidak selamanya kasus penculikan tersebut bisa diungkap. Di kawasan hukum Polda Metro Jaya, misalnya, dari 46 kasus penculikan selama tahun 2006, baru 36 kasus yang terungkap. Dari 46 kasus tersebut, 26 kasus penculikan anak dan 20 kasus penculikan orang dewasa.

Sulitnya mengungkap kasus penculikan antara lain karena berkembangnya modus-modus baru penculikan dan semakin rapinya jaringan penculikan anak. Jaringan penculik pun semakin berkembang hingga melintasi batas negara.

Afrinaldi, mantan pegawai Departemen Sosial yang membongkar sejumlah sindikat perdagangan anak di Jakarta, mengatakan, perdagangan anak untuk dijual ke luar negeri melibatkan banyak pihak. Mulai dari pencari bayi, penyalur, hingga pembuat dokumen.

Pencari bayi biasanya beroperasi di sekitar permukiman masyarakat miskin, di kompleks pelacuran, dan di sekitar kos-kosan mahasiswi. Mereka menampung bayi-bayi tak berdosa yang kelahirannya tak dikehendaki orangtuanya. Mereka ada yang bekerja sama dengan oknum bidan, klinik bersalin, ataupun oknum perawat di rumah sakit.

Modus lain, banyak juga orangtua dari keluarga miskin yang didekati sejak awal kehamilan. Mereka dijanjikan bayinya kelak akan diurus keluarga kaya sehingga masa depannya terjamin. Karena terlilit kemiskinan dan berharap anaknya bisa hidup layak, banyak juga orangtua yang “mengijonkan” bayi yang masih dikandungnya.

Pembeli yang serius menginginkan bayi sehat, dan biasanya dari ekspatriat kaya, oleh calo-calo bayi mereka diharuskan memberikan susu serta vitamin sejak bayi dalam kandungan. Mereka pun “diperas” calo untuk membayar biaya persalinan Rp 10 juta, biaya perawatan bayi Rp 1,5 juta per hari, serta biaya pengurusan dokumen.

“Biaya dokumen pun beragam. Dikenakan tarif Rp 50 juta jika ingin cepat atau Rp 15 juta jika pengurusan dokumen secara normal,” kata Afrinaldi yang menulis buku Jangan Jual Tristan!.

Jika bayi itu akan dibawa ke luar negeri, biaya yang dikeluarkan bertambah Rp 20 juta untuk pengurusan surat-surat di imigrasi dan lain-lain. Biaya ini masih harus ditambah dengan uang tip atau uang jasa.

Padahal, menurut Ketua Yayasan Sayap Ibu Rin Tjiptowinoto, biaya yang dikeluarkan untuk mengadopsi bayi secara resmi hanya Rp 3 juta.

Mengincar semua

Bukan cuma bayi yang menjadi incaran penculik. Anak-anak dan remaja pun semakin banyak yang menjadi incaran penculik. Motifnya ada yang menginginkan uang tebusan, dipekerjakan sebagai pengemis, dijerumuskan sebagai pekerja seks komersial, dan yang lebih sadis dijual sebagian organ tubuhnya.

Di sejumlah kabupaten di Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Malaysia, misalnya, banyak anak di bawah umur yang diiming-imingi bekerja di Malaysia dengan gaji tinggi sebagai buruh pabrik, pelayan toko, atau bekerja di perkebunan. Karena dililit kemiskinan, banyak di antara mereka yang terpikat. Namun, kemudian mereka dijerumuskan menjadi pekerja seks komersial atau menjadi obyek kekerasan. Ketika ada yang mengandung dan melahirkan, mereka dikembalikan ke Indonesia dan bayi mereka dijual.

“Untuk mencegah berkembangnya kasus seperti itu, kami melakukan kampanye penyadaran kepada masyarakat. Jika ingin bekerja di Malaysia, harus sesuai dengan usia dan berangkat melalui perusahaan pengerah jasa tenaga kerja yang resmi,” kata Yudith Esamitha, Koordinator Divisi Penyadaran Hukum, Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan untuk Keadilan Kalimantan Barat.

Di Depok, Jawa Barat, lain lagi kasusnya. Tiga siswa SMP yang sedang berada di warung internet (warnet) didatangi sekelompok pria. Mereka menuding ketiga siswa tersebut menganiaya anak mereka. Karena ketakutan diintimidasi sekelompok pria dewasa, mereka menurut saja ketika dipaksa ikut dan disekap. Dalam kondisi disekap itulah, orangtua siswa dipaksa membayar uang tebusan Rp 15 juta hingga Rp 20 juta jika ingin anaknya selamat.

Jadi, di zaman susah begini, banyak modus untuk menculik anak. Salah satu yang bisa dilakukan hanyalah meningkatkan kewaspadaan agar tak mudah diperdaya orang yang menginginkan sesuatu dengan cara cepat dan gampang. (IRN) Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: