Anak-anak Semakin Tidak Aman

Maraknya aksi penculikan anak membuat orangtua serta pihak sekolah waswas dan memperketat keamanan di lingkungannya.

aklumlah, sebagian kasus penculikan terjadi di lingkungan sekolah sehingga mau tak mau pihak pengelola atau pemilik sekolah seharusnya ikut bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Minimal membuat pengamanan lebih baik guna mencegah terjadinya kejadian tak diinginkan.

Sebut saja percobaan penculikan atas Kirana Devi Aurelia yang akrab dipanggil Aurel (5) pada 24 Agustus lalu. Seorang lelaki tak dikenal mencoba membujuk Aurel, murid Taman Kanak-kanak Al Irsyad di Pinang, Kota Tangerang, untuk pulang bersamanya. Ketegasan guru TK setempat berhasil menggagalkan niat lelaki itu.

Atau, penculikan yang menimpa Elvina Rira Sari Dewi atau Pipin (9,5) dan Novita Puteri (10), murid SDN 10 Kreo, Kota Tangerang, pada 23 Agustus lalu. Pelaku penculikan, seorang perempuan dewasa, berpura-pura membujuk Novi dan Pipin di depan sekolahnya.

Sejak kasus itu merebak, banyak sekolah kemudian memperkuat sistem keamanannya. Kepala Sekolah TK Al Irsyad Nurul Muqiyah langsung berembuk dengan orangtua murid untuk membuat kesepakatan tentang sistem pengamanan baru yang lebih ketat. Hasilnya, setiap penjemput murid sekolah itu kini harus membawa semacam tanda yang memuat nama dan foto penjemput yang dikeluarkan oleh pihak sekolah.

“Jika penjemput lupa membawa kartu tersebut, atau wajah dan namanya tak sama dengan data yang ada di kartu, kami menolak menyerahkan anaknya,” kata Nurul. Para orangtua murid mengaku sistem itu agak ruwet, tetapi akhirnya mereka menerimanya demi keselamatan anak.

Simulasi

Sehari setelah upaya penculikan Aurel, sekolah mengadakan simulasi menghadapi penculik. Misalnya, anak-anak tidak boleh mengikuti ajakan orang tak dikenal. Ketika dipaksa ikut, anak- anak harus berteriak sekeras-kerasnya sehingga didengar orang lain di sekitar tempat mereka.

Adapun orangtua Novi dan Pipin memilih mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah sampai situasi dirasa cukup aman buat anak-anak itu. “Biasanya Pipin berangkat dan pulang sendiri dengan naik angkot, tetapi sekarang lebih baik saya antar jemput dulu,” kata Ny Rahmawati, ibu Pipin. Ia berencana, setelah itu perlahan anaknya hendak dilepas pergi sendiri seperti sebelum menjadi korban penculikan.

Akan tetapi, di luar sistem keamanan yang dibangun oleh orangtua, baik di rumah maupun di sekitar sekolah, para orangtua siswa SDN 10 Kreo sangat berharap Pemerintah Kota Tangerang segera membenahi pagar sekolah dan memperkuat sistem pengamanannya.

“Di sini sebenarnya sering ada kejadian seperti dialami Pipin dan Novi, tetapi orangtua takut melapor ke polisi,” kata Ny Titi, salah satu orangtua murid di sekolah itu.

Sekolah yang terletak di pertigaan Kreo itu setiap hari, pagi, siang, dan sore riuh rendah dan semrawut oleh kesibukan di Jalan Raya Ciledug. Pintu masuk ke sekolah menjadi tempat naik dan turun penumpang kendaraan umum, tempat mangkal angkot, bus kota, dan metromini.

Akibatnya, pernah terjadi murid yang hendak menyeberang tertabrak motor. Pada waktu malam, preman banyak tidur atau kumpul-kumpul di halaman sekolah yang memang tak memiliki pintu pagar.

Alhasil, setiap saat, di tengah kegiatan pembelajaran berlangsung (pagi dan siang-sore hari), siapa pun bisa masuk ke halaman sekolah atau duduk-duduk di dekat kelas. Tak heran jika penculik Novi dan Pipin menguasai betul keadaan sekolah, guru, dan siswa di sana sehingga bisa dengan mudah beraksi.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, yang akrab disapa Kak Seto, menyarankan adanya panduan pengamanan yang melibatkan masyarakat sekitar. Soalnya, sebelum beraksi, penculik biasanya bertanya-tanya kepada masyarakat sekitar. “Perlu diaktifkan kembali kepolisian masyarakat atau polmas,” katanya.

Orangtua dan anak juga perlu menghafal nomor telepon kepolisian yang mudah dihubungi. “Coba, berapa banyak orangtua dan anak yang hafal nomor telepon polisi,” ujarnya. kata Kak Seto.

Menurut Kak Seto, guna mencegah penculikan anak, orangtua harus menjalin komunikasi efektif dengan anak. Dengan cara itu, orangtua dapat memantau “perasaan” anak. “Adakalanya, saat anak enggan pergi ke sekolah, anak memiliki perasaan tidak enak, akan terjadi sesuatu dengan dirinya,” kata Kak Seto.

Selain itu, anak juga harus diajari untuk berani berteriak saat sesuatu terjadi pada dirinya. “Orangtua cenderung mengajarkan sopan santun dan berkata lembut. Akibatnya, saat harus berteriak, anak tidak terbiasa,” katanya.

Kebiasaan buruk orangtua, yakni mendandani anak dengan berbagai perhiasan dan membekalinya dengan telepon seluler, harus dihentikan. Berbagai barang berharga itu dapat mengundang tindak kejahatan.

Oleh Soelastri Soekirno dan Khairina/ Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: