Tirani Pengelolaan Anggaran

Hal yang melekat dalam pelaksanaan fungsi-fungsi kenegaraan adalah akuntabilitas (pertanggungjawaban). Sebab, di alam demokrasi, aparat yang menjalankan fungsi-fungsi itu, entah eksekutif, yudikatif, maupun legislatif, pada hakikatnya menjalankan mandat dan kepercayaan rakyat. Oleh karenanya, sudah seharusnya pelaksanaan tugas itu akuntabel di mata pemberi mandat.

Dari sejumlah aspek yang harus memenuhi aspek akuntabilitas, salah satu yang paling krusial adalah ihwal keuangan negara. Untuk itu disusunlah mekanisme dan lembaga yang secara independen bisa menjamin terlaksananya fungsi-fungsi yang berkaitan dengan keuangan negara secara transparan dan bertanggung jawab. Lembaga yang diberi mandat untuk menjaga akuntabilitas keuangan negara adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Belakangan ini, mencuat perseteruan antara BPK dan Mahkamah Agung (MA). Pemicunya, MA enggan biaya perkara diaudit oleh BPK. Dalam kasus tersebut, tampaknya sikap publik mengkristal mendukung BPK mengaudit biaya perkara MA, dan sebaliknya mencaci sikap Ketua MA Bagir Manan.

Ketua BPK Anwar Nasution telah memilih sikap yang tepat, yakni meminta semua lembaga negara dan lembaga publik bersedia diaudit aspek keuangannya. Di tengah upaya memberantas korupsi, peningkatan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara melalui audit BPK adalah sebuah solusi yang efektif.

Menurut BPK, biaya perkara yang dipungut MA tergolong sebagai penerimaan negara bukan pajak, yang harus disetorkan ke kas negara. Untuk itu, pengelolaannya harus diawasi ketat melalui audit BPK.

Keengganan yang ditegaskan Ketua MA, seakan mencerminkan adanya kehendak membentangkan tembok tinggi, agar aspek akuntabilitas tak menyentuh benteng terakhir peradilan di negeri ini. Sebab, sebelumnya MA juga menolak mekanisme pengawasan yang hendak dilakukan Komisi Yudisial.

Bertolak dari kenyataan tersebut, sangat masuk akal apabila Ketua BPK meradang, dan melaporkan MA ke Mahkamah Konstitusi. Hal itu patut dimengerti, mengingat MA menyandang status sebagai benteng penegakan hukum terakhir.

Sebaliknya, kita tak habis mengerti dengan sikap MA, yang justru bertolak belakang dengan upaya penegakan aturan dalam pengelolaan keuangan negara. Pungutan yang berkisar Rp 500.000 hingga Rp 2,5 juta untuk setiap perkara yang ditangani, bukan jumlah yang sedikit bagi yang berperkara, terutama mereka yang hidupnya pas-pasan namun menginginkan keadilan.

Tertutupnya akses audit biaya perkara di MA menjadi cermin betapa pemerintah miskin akuntabilitas publik dalam aspek keuangan negara, terutama di lingkungan lembaga penegak hukum. Pada akhirnya, kita khawatir, pemerintah tak punya komitmen yang penuh untuk membenahi kinerja dalam pengelolaan keuangan negara.

Padahal, akuntabilitas publik dalam hal keuangan adalah satu cermin utama keberhasilan sebuah rezim menjalankan mandat dari rakyat. Akuntabilitas publik adalah alat ukur utama bahwa pemerintah bisa dipercaya, benar-benar mengabdi dan mengutamakan kepentingan rakyat, serta mampu menjalankan segala fungsinya secara bertanggung jawab.

Tuntutan agar ada akses kepada BPK untuk mengaudit biaya perkara di MA berpijak dari kesadaran bahwa sektor ini sangat krusial agar bisa menampilkan wajah penegakan hukum sepenuhnya di segala aspek. Tuntutan itu sekaligus upaya agar jangan sampai ada tirani dalam pengelolaan keuangan lembaga negara.

Melihat kenyataan yang ada di lapangan, audit terhadap biaya perkara di MA menjadi hal yang mutlak dilakukan. Adanya audit, potensi penyimpangan dapat dieliminasi, yang pada akhirnya dapat mengoptimalkan penerimaan negara dan menegakkan kepatuhan di kalangan pengelola keuangan di MA.

Sumber: Surat Kabar Harian Suara Pembaruan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: