Kecemasan terhadap Dana Asing

Kehadiran dana asing dalam transaksi saham atau surat berharga lainnya telah menimbulkan kecemasan sebab seperti pedang bermata dua. Masuknya dana asing akan menaikkan harga saham, Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan lainnya, namun harga-harga surat-surat berharga itu bakal jatuh begitu investor asing menarik dini. Kejatuhan ini bisa berdampak luas
Dalam beberapa hari terakhir, dana asing datang lagi setelah sempat keluar karena krisis subprime mortgage. Kedatangan dana ini disebabkan Bank Sentral Amerika Serikat menurunkan sukubunga dari 5,25% menjadi 4,75%. Penurunan itu mendorong investor mencari tingkat sukubunga yang lebih tinggi guna memaksimalkan penerimaan.
Menurut data Bank Indonesia, kepemilikan asing pada SBI per 20 September 2007 mencapai Rp 31,23 triliun atau 12% dari total nilai SBI. Ini merupakan kenaikan karena pada 19 September mencapai Rp 23,38 triliun atau 8,9% dari total SBI, sedangkan sehari sebelumnya kepemilikan asing berjumlah Rp 22,94 triliun (87,2% dari seluruh total SBI sebesar Rp 262,95 triliun).
Kecenderungan serupa juga terjadi pada pemilikan asing di Surat Utang Negara (SUN). Kepemilikan asing pada Kamis lalu (20/9) berjumlah Rp 76,26 triliun atau 16,36% dari total SUN yang berjumlah Rp 466,14 triliun.
Kehadiran dana asing itu dengan sendirinya meningkatkan cadangan devisa. Kalau dulu kita pernah bangga dengan jumlahnya yang berada di seputar US$31 miliar, maka sekarang jumlahnya sudah mencapai US$52,74 miliar.
Jumlah cadangan devisa yang cukup besar itu secara keliru seringkali dibanggakan, hingga membuat masyarakat terkecoh. Disebut keliru karena cadangan devisa itu tidak tersusun dari hasil-hasil yang terkait kompetensi dan daya saing produk ekspor.
Cadangan devisa itu merupakan kumpulan dari hasil produk-produk ekspor yang berbasiskan sumber daya alam, produk-produk ekspor yang mudah goyah terhadap perubahan harga, serta utang dan dana asing. Tentu ada hasil ekspor produk-produk unggulan namun nilainya masih kurang menggembirakan.
Dengan demikian tingkat ketidakstabilan atas jumlah cadangan devisa itu cenderung tinggi. Untuk mempertahankan keajegan, otoritas moneter atau pemerintah terpaksa harus terus menerus mengeluarkan surat berharga yang kompetitif. Di samping menerapkan upaya lain agar investor asing tidak melepas portofolionya.
Kita menilai, cadangan devisa semestinya didominasi oleh hasil-hasil ekspor unggulan dengan bahan baku dan bahan baku penolong asli Indonesia. Namun selama bertahun-tahun impian itu tidak pernah terwujud. Produk yang diekspor kebanyakan berbasis sumber daya alam dan tidak diberi nilai tambah.
Salah satu contoh jelas adalah ekspor LNG ke Taiwan, Jepang dan Korea Selatan. Oleh ketiga negara LNG itu semata-mata tidak dijadikan bahan baku energi, namun juga dikembangkan menjadi produk-produk lain yang bernilai tambah. Ironisnya, Indonesia kemudian mengimpor produk-produk derivatif tersebut. Akhirnya, kita terpaksa mengeluarkan dana baru dan tak mempunyai kemampuan membuat produk-produk derivatif tersebut.
Banyak pihak berpendapat, sekalipun The Fed telah menurunkan tingkat sukubunga namun dampak negatif krisis subprime mortgage tidak segera berakhir. Masih butuh cukup lama supaya akibatnya benar-benar hilang. Malahan Menteri Keuangan Amerika Serikat Henry M. Paulson Jr menyatakan dampaknya baru akan hilang setelah dua tahun.
Dewasa ini selisih antara BI Rate dan The Fed’s rate makin melebar hingga investor asing cenderung masuk ke Indonesia. Selisih yang lebar itu merupakan beban bagi pemerintah sebab mesti membayar bunga yang cukup besar, tetapi untuk mempersempit selisih itu bukan persoalan gampang.
Perkembangan perekonomian AS secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi situasi di Indonesia. Ini merupakan konsekuensi logis menerapkan kebijakan sistem pasar ekonomi terbuka. Indonesia menerapkan sistem ini, sebagai syarat yang diajukan IMF, Bank Dunia serta negara donor sebelum mengguyur pinjaman kepada Indonesia.
Sistem ekonomi pasar besar telah mencelakakan banyak negara berkembang dalam arti rakyatnya, sebab elite yang mempunyai informasi serta dana tak pernah dirugikan. Di Indonesia misalnya, internasionalisasi sudah sampai kepelosok desa hingga fluktuasi mata uang kuat mempengaruhi nilai rupiah dan berbagai produk.
Kita sudah tak bisa mengubah sistem tersebut karena setiap perubahan akan menimbulkan biaya baru, baik politik maupun ekonomi. Oleh sebab itu bisa dimengerti bila otoritas moneter dan pemerintah lebih suka terus menerus menyempurnakan berbagai peraturan supaya dampaknya bisa dibuat sekecil mungkin.
Kemarin (21/9) salah seorang narasumber di harian ini misalnya, mengusulkan supaya pemerintah dan otoritas moneter memperketat pengawasan dana asing, di samping mengenakan pajak atas transaksi saham. Kita menilai koordinasi antar menteri terkait serta otoritas moneter perlu diperkuat sebab meredam dampak akibat penarikan dana asing merupakan tugas semua. Begitu pun sebaliknya. n

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: