Kekuatan Sendiri dalam Baertahan Gempa di Sumatera

Nyonya Urip (46) menahan air mata saat menunjukkan warung yang rusak dan rumah tinggal yang roboh diguncang gempa 7,9 skala Richter. “Di rumah ini saya serta tujuh anak tinggal dan mencari nafkah,” tutur janda yang menghidupi keluarga dari penjualan barang kebutuhan harian itu, Minggu (16/9).
Kini, keluarga yang tinggal di Sikakap Tengah, Kecamatan Pagai Utara Selatan, Kabupaten Mentawai, ini masih bermalam di mushala dekat rumah. Namun, pada pagi hari hingga petang, mereka kembali ke rumah untuk mencuci, berbenah, atau kegiatan lain.

Aktivitas serupa dilakukan ribuan pengungsi di Sikakap, ibu kota Kecamatan Pagai Utara Selatan. Kecamatan ini termasuk daerah yang mengalami kerusakan parah pascagempa.

Meski mengalami kerusakan parah, Pulau Pagai baru tersentuh bantuan pada hari Minggu (16/9) setelah kapal Sumber Usaha yang membawa bantuan merapat di Pulau Pagai Utara.

Berdasarkan pengamatan Kompas yang menumpang kapal tersebut, kerusakan akibat gempa tidak langsung terlihat secara sepintas. Dari kejauhan, tampak bangunan-bangunan rumah masih berdiri tegak.

Namun, jika diperhatikan dari dekat, kerusakan terjadi di sana-sini, di samping rumah yang benar-benar roboh. Bangunan yang tampak masih utuh ternyata sudah retak-retak. Di tepi-tepi laut barulah tampak bangunan roboh maupun rusak parah.

Setelah gempa Rabu lalu, air laut bahkan masuk ke rumah warga yang ada di tepi laut. “Nah, coba lihat ini. Inilah bekas air laut yang masuk ke rumah warga. Ketinggian air kira-kira tiga meter dari permukaan tepi laut pada keadaan normal,” ucap Syaiful Zein (40), yang tinggal di tepi laut.

Kerusakan rumah memang banyak terjadi di tepi laut. Ada yang roboh total, ada pula yang mengalami kerusakan struktur bangunan.

Selain rumah warga, kantor-kantor yang ada di tepi laut, seperti Kantor Syahbandar Pelabuhan Sikakap dan Kantor Unit Pelaksana Teknis Daerah Pelabuhan Perikanan Pantai Sikakap, juga rusak akibat gempa.

Kerusakan geologis pada tanah juga terjadi. Retakan tanah terlihat di sejumlah tempat, termasuk di pelabuhan. Sebagian tanah ambles hingga 20 sentimeter di areal pelabuhan perikanan itu.

“Terminal untuk kapal yang mengangkut anak sekolah ke Pagai Selatan juga rusak bersama rumah saya yang rata dengan air laut,” tutur Faisal (23), warga Sikakap Tengah, yang baru saja membangun terminal kecil berikut rumah tinggal di tepi laut.

Sementara itu, pendataan kerusakan bangunan di Mentawai tidaklah mudah. Mentawai terdiri dari empat pulau besar, yakni Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan. Sikakap terletak di Pulau Pagai Utara.

Transportasi yang memungkinkan untuk menjangkau semua wilayah adalah transportasi laut. Namun, jarak dari satu wilayah ke wilayah lain sangat jauh sehingga dibutuhkan waktu berjam-jam.

Hingga Minggu malam baru terdata 186 bangunan rusak berat, 158 rumah rusak ringan, 252 rumah kayu rusak berat, dan 187 rumah kayu rusak ringan.

Bertahan bersama

Hujan tak mau berkompromi dengan nasib pengungsi yang berlindung di bawah tenda seadanya. Minggu sore hujan mengguyur Sikakap. Tidak deras, tetapi sudah membasahi tanah yang ditempati para pengungsi.

Kebingungan terasa di tenda-tenda pengungsi yang terbuat dari plastik. “Ah, hujan tidak bisa diperkirakan, sama seperti terjadinya gempa,” tutur Artina Sembiring, salah satu warga yang mengungsi di perbukitan.

Ia segera beringsut ke tenda besar yang dibuat bersama-sama untuk sekitar 10 keluarga. Air hujan tetap merembes di tanah, yang menjadi alas tidur sebagian besar pengungsi. Keadaan darurat membuat mereka harus bertahan apa adanya.

Kondisi darurat juga dirasakan dari keterbatasan stok makanan. Bahan makanan, minyak tanah, atau apa pun yang masih tersisa dari rumah dikumpulkan untuk dipakai bersama.

Hingga Minggu siang baru dua bungkus mi instan dan setengah kilogram beras yang diterima setiap keluarga pengungsi. Itu pun berasal dari pedagang besar yang ada di kota tersebut.

Hingga kemarin belum satu warga pun yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan berani melaut untuk mendapatkan ikan. “Belum lagi berani ke laut. Pikiran masih di rumah, apalagi rumah rusak dan keluarga masih mengungsi semua,” ucap Oyon Tailor (46), warga yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan.

Di tenda itu pula para pengungsi saling membantu. Jika ada yang sakit, yang sakit tersebut dirawat beramai-ramai karena belum ada tenaga medis yang datang ke pulau itu pascagempa.

“Belum ada satu pun dokter yang ke sini, padahal kami sudah beberapa kali mengadu,” tutur salah seorang pengungsi.

Akhirnya, para pengungsi harus membantu si sakit. Kasur yang bisa diselamatkan dijadikan alas tidur bagi pasien. Jika ada kasur lain, kasur tersebut dipakai anak-anak dan manula.

Kebersamaan untuk bertahan hidup dalam kondisi darurat inilah yang menyelamatkan pengungsi. Jika menunggu bantuan dari pemerintah, tentu hidup mereka semakin menderita karena kapal bantuan baru saja berlabuh di Sikakap, Minggu siang. Itu pun, barang yang dibawa tidak langsung sampai ke tangan pengungsi. Masih ada birokrasi. (Agnes Rita Sulistyawati / Kompas)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: