Janji Bantuan Rp 619 Miliar untuk 54.451 Bangunan Roboh Rusak

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional mencatat bangunan yang roboh dan rusak berat pascagempa di Bengkulu dan Sumatera Barat mencapai 54.451 unit. Jadi, untuk memenuhi janji pemberian bantuan rehabilitasi bagi korban gempa itu, pemerintah harus menyediakan dana Rp 619,89 miliar.

Demikian diutarakan Direktur Kewilayahan 2 Bappenas Suprayoga Hadi, Minggu (16/9) di Jakarta, saat mengungkapkan Ringkasan Laporan Perkembangan Kondisi Pascgempa Bumi di Sumatera.

Menurut dia, pemerintah sudah menjanjikan bantuan dana rehabilitasi rumah sebesar Rp 15 juta untuk rumah yang roboh dan Rp 10 juta untuk rumah rusak.

Bappenas mencatat, total jumlah bangunan yang rusak akibat gempa di kedua daerah itu mencapai 64.609 unit, terdiri dari 15.076 unit roboh, 39.375 unit rusak berat, dan 7.158 unit rusak ringan. Angka tersebut belum termasuk 3.000 rumah lainnya di Kecamatan Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, yang rusak, tetapi belum diklasifikasi jenis kerusakannya.

“Data yang kami himpun ini baru hasil pendataan sementara, yang terdiri atas volume kerusakan. Kami juga masih menunggu data dan satuan harga terakhir sehingga dapat diketahui laporan materialnya,” ujar Suprayoga.

Secara terpisah, Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Hafiz Zawawi menyebutkan, dana yang masih tersedia untuk merehabilitasi sarana publik akibat bencana alam tahun 2007 adalah sekitar Rp 700 miliar.

Bantuan minim

Hingga hari keempat pascagempa, para korban belum mendapatkan bantuan yang memadai. Sejumlah korban gempa yang ditemui Kompas mengungkapkan bantuan yang mereka terima masih sangat minim.

Pada beberapa lokasi pengungsian di Bengkulu, korban gempa mulai kelelahan. Selain karena hidup di bawah tenda plastik dengan alas seadanya, pasokan bahan makanan dan air bersih pun sangat terbatas. Hal itu menambah tekanan psikologis bagi para korban.

“Pasokan bahan pangan sejak hari pertama gempa memang sudah diterima pengungsi, tapi dengan jumlah seadanya,” ujar Siti Khairiah, Camat Lais, Kabupaten Bengkulu Utara. Khairiah juga mengutarakan, fasilitas di pengungsian, seperti pasokan air bersih untuk minum dan mandi, serta ketersediaan selimut dan tikar, sangat minim.

Di Kecamatan Lais, yang posisinya sangat dekat dengan pusat gempa berkekuatan 7,9 SR hari Rabu lalu, tercatat lima dari 22 desa mengalami kerusakan paling parah. Ke-5 desa itu adalah Desa Pal 30, Pasar Lais, Dusun Raja, Lubuk Lesung, dan Mesikit.

Sebagian pengungsi di Desa Lubuk Gedang Lais dilaporkan menderita berbagai penyakit, antara lain sakit kepala dan tekanan darah tinggi. Banyak anak-anak yang mulai mengalami flu dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

Kondisi itu terungkap dalam pengobatan gratis yang dilakukan Pertamina di desa tersebut. Hendri, dokter yang memeriksa warga, mengatakan, ISPA dan flu lebih banyak diakibatkan udara luar rumah yang tidak sehat bagi anak-anak dan orang dewasa. Semakin lama mereka tidur di tenda di luar rumah, potensi penyebaran ISPA dan flu makin tinggi.

Dari Jambi dilaporkan, hujan mengguyur wilayah Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci. Akibatnya, sebagian pasien Rumah Sakit Umum Daerah Mayjen HA Thalib Sungai Penuh dimasukkan ke dalam gedung rumah sakit yang sudah mengalami kerusakan karena tenda darurat bocor.

Direktur RSUD Mayjen HA Thalib Noviar mengemukakan, sebenarnya kondisi bangunan Unit Gawat Darurat RSUD mencemaskan pasien, tetapi tidak ada pilihan lain.

Kecewa

Gubernur Bengkulu Agusrin Maryono Najamuddin yang ditemui di Pos Satuan Koordinasi Penanggulangan Bencana Alam (Satkorlak PBA) Provinsi Bengkulu mengatakan, masyarakat Bengkulu kecewa karena ada pandangan yang mengecilkan dampak gempa. Padahal, kalau dilihat lebih dekat, Bengkulu justru mengalami kerusakan parah dengan porak porandanya sejumlah perkampungan penduduk di dua kabupaten, yakni Kabupaten Bengkulu Utara dan Mukomuko.

Berdasarkan inventarisasi kebutuhan mendesak, menurut Agusrin, Satkorlak PBA Provinsi Bengkulu sampai sekarang masih membutuhkan sekitar 30.000 tenda lipat (terpal), dengan sekitar 13.000 tenda direncanakan akan didistribusikan ke Bengkulu Utara. Satkorlak PBA juga membutuhkan sekitar 6.000 tenda regu untuk rumah sakit dan sekolah serta 35.000 selimut.

Konstruksi lemah

Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi mengatakan, jumlah rumah yang rusak relatif banyak karena konstruksi bangunan tidak layak, tidak menggunakan besi. Dia juga mengatakan, kerusakan terparah ada di Kabupaten Pesisir Selatan dan Kabupaten Mentawai. “Semestinya memang izin mendirikan bangunan juga harus memerhatikan keselamatan bangunan pada warga,” kata Gamawan.

Kerusakan di Kabupaten Pesisir Selatan ditaksir mencapai Rp 513 miliar, sementara data resmi kerugian di Kabupaten Mentawai belum diterima gubernur. “Bisa-bisa di atas Rp 800 miliar,” kata Gamawan.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sendiri mengajukan dana bantuan pembangunan rumah kepada pemerintah pusat sebesar Rp 15 juta per rumah untuk rumah rusak berat dalam wujud uang tunai.

Sementara itu, kemarin pukul 19.10 waktu setempat, dilaporkan terjadi gempa berkekuatan 4,7 skala Richter. Gempa berpusat di laut yang berjarak 94 kilometer barat daya Tasikmalaya.

Selain di Tasikmalaya, gempa juga dirasakan hingga ke pusat kota Garut. Budi (28), warga Garut, mengatakan, getaran sempat dirasakan di tengah kota Garut. “Tadi cuma terasa sedikit. Enggak lama. Mungkin gempanya kecil. Warga juga tidak terpengaruh,” kata pria yang sedang berada di Jalan Siliwangi, Garut, itu.(OIN/CHE/ITA/ZUL/WAD/ECA/ ART/WSI/ADH/JOS/ART/Kompas)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: