Stok Ayam Kurang, Daging Sapi Pas-pasan

Persediaan daging sapi pas-pasan atau sama dengan perkiraan kebutuhan di bulan Ramadhan dan Lebaran karena pasokannya bergantung impor. Sementara itu, stok daging ayam lebih rendah dibandingkan kebutuhannya karena ada kekurangan pasokan akibat tingginya harga pakan.

Harga kedua komoditas yang sangat dibutuhkan masyarakat itu dikhawatirkan akan melonjak saat mendekati Lebaran (13-14 Oktober 2007) jika pasokannya tidak bertambah.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi mengungkapkan hal tersebut seusai Rapat Koordinasi Persiapan Lebaran di Jakarta, Jumat (14/9). Rapat ini dipimpin Menko Perekonomian Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, dan Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal.

Bayu mengatakan, pemerintah akan memantau realisasi produksi daging ayam broiler selama September 2007. Itu dilakukan sebelum menetapkan kebijakan lain dalam mengamankan persediaan daging ayam broiler di saat konsumsi mencapai tingkat tertinggi, yakni Lebaran. (lihat tabel)

Harga daging sapi murni dilaporkan meningkat dari Rp 45.951 per kilogram pada Oktober 2007 menjadi Rp 50.944 per kg pada 13 September 2007. Dengan demikian, terjadi kenaikan 10,8 persen. Sementara harga daging ayam broiler meningkat menjadi Rp 18.955 per kilogram pada 13 September 2007 dari Rp 15.451 per kilogram pada 24-25 Oktober 2007. Artinya, terjadi lonjakan 22,6 persen.

Secara terpisah, Direktur Bina Pasar Departemen Perdagangan Gunaryo menjelaskan, persediaan daging ayam yang kurang 1.000 ton itu akan tercukupi dengan masuknya ayam siap potong dari produsen mulai pekan ini.

Tepung terigu

Gunaryo menyebutkan, pasokan tepung terigu pada September-Oktober akan tersedia memadai meskipun ketersediaan tepung terigu pada 1 September 2007 baru tercatat 75.000 ton. Itu jauh di bawah kebutuhan rata-rata pada September-Oktober 2007, yakni 280.000 ton.

“Produksi tepung terigu dalam sebulan dapat mencapai 350.000 ton sehingga asumsi konsumsi sebanyak 280.000 bisa terpenuhi,” ujarnya.

Sementara itu, kalangan industri pengolahan menilai harga eceran minyak goreng yang sudah melebihi Rp 9.000 per kilogram tidak wajar lagi. Mereka menduga pedagang memanfaatkan momentum bulan puasa untuk menaikkan harga.

“Marjin keuntungan pedagang minyak goreng saat ini sudah di luar kewajaran. Pemerintah seharusnya mengawasi pedagang ritel agar tidak semaunya mempermainkan harga,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga.

Saat ini, produsen minyak goreng membeli minyak sawit mentah (CPO) dari Sumatera Utara dan Dumai seharga Rp 7.300 per kilogram. Setelah diolah menjadi minyak goreng, produsen menjualnya Rp 7.800 per kilogram franko pabrik.

Sahat mengatakan, untuk penyaluran ke distributor dan pedagang grosir di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, ongkos angkut minyak goreng curah Rp 70 per kg.

Selanjutnya, distributor mengambil marjin Rp 300 per kilogram saat menjual ke pedagang grosir atau pengecer. Pedagang grosir yang menjualnya ke pengecer juga mengambil marjin Rp 300-Rp 400 per kilogram.

Menurut Sahat, seharusnya pedagang menjual minyak goreng curah eceran kepada konsumen di bawah Rp 9.000 per kilogram.

“Oleh karena itu, para produsen saat ini sudah mulai menggelar pasar murah menjual produknya lebih murah dari harga pasar. Namun, kegiatan ini dijalankan sukarela oleh produsen, bukan keharusan,” kata Sahat. (OIN/TAV/DAY/HAM/Kompas)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: