Pasokan ke Pasar Induk Beras Tembus Rp 5.000

Harga beras termurah di 14 kota sudah menyentuh angka Rp 5.000 per kilogram, sementara di sejumlah kota di Pulau Jawa masih ada harga yang di bawah angka itu. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, harga beras yang paling banyak dikonsumsi masyarakat tidak mampu bervariasi.

Variasi harga beras mulai dari Rp 5.000 per kilogram sampai Rp 6.120 per kg. Meskipun harga beras termurah sudah menyentuh Rp 5.000 per kg, Bulog belum melakukan intervensi pasar.

Padahal, bulan September ini sudah mulai masuk musim paceklik dan dipastikan akan terjadi lonjakan harga beras.

Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta agar Perum Bulog tidak kaku dalam menjalankan perannya dalam stabilisasi harga beras. “Perum Bulog langsung saja melakukan operasi pasar, dan tidak lagi melalui izin Menteri Perdagangan atau menunggu permintaan dari gubernur setempat,” ujar Wapres, setelah shalat Jumat di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta.

Di tempat terpisah, Direktur Operasional Perum Bulog Abdul Waries Patiwiri menjelaskan, pihaknya terus memantau pergerakan harga beras termurah di setiap daerah yang sudah melampaui Rp 5.000 per kg. Begitu ada pergerakan harga beras di daerah itu, Bulog langsung melakukan operasi stabilisasi.

“Harga yang diobservasi BPS merupakan harga beras pada minggu terakhir bulan Agustus. Harga terendah di tiap-tiap daerah pada pekan terakhir itu menjadi patokan untuk operasi,” katanya.

Menurut Waries, ada sembilan kota yang menjadi fokus observasi Bulog jika sewaktu-waktu ada lonjakan harga. Kota-kota itu adalah Medan, Padang, Pekanbaru, Pangkal Pinang, Balikpapan, Manado, Ternate, Ambon, dan Jayapura.

Waries meyakinkan stok beras Bulog untuk operasi pasar sudah ada di setiap gudang divisi regional. Volume, jenis, serta harga beras untuk operasi stabilisasi sudah disiapkan, tinggal bergerak ke lapangan jika ada indikasi pergerakan harga.

Sebelumnya, Direktur Utama Bulog Mustafa Abubakar mengatakan, Bulog sudah siap mengantisipasi gejolak harga beras.

Begitu pula dengan kemungkinan lonjakan harga beras menjelang Lebaran. “Volume beras yang disiapkan untuk operasi stabilisasi khusus Lebaran sebanyak 450.000 ton-500.000 ton,” ujar Mustafa Abubakar.

Data yang diperoleh dari BPS hasil observasi Juli-Agustus 2007 menunjukkan, dari 14 kota itu harga beras tertinggi, yaitu di Balikpapan dan Kalimantan Barat. Di sana harga beras jenis Bengawan atau K Damai Rp 6.120 per kilogram.

Beras jenis itu merupakan beras termurah yang dikonsumsi warga Balikpapan. Di Balikpapan, beredar juga beras jenis Bengawan Bondy (Rp 6.158 per kg), Bengawan P Delima (Rp 6.200 per kg), dan beras Rajalele (Rp 6.279 per kg). Empat jenis beras ini yang paling banyak beredar.

Lima jenis beras

Sementara itu di kota Batam, harga beras termurah jenis Panda pada minggu keempat Agustus Rp 5.745 per kg.

Saat ini setidaknya ada lima jenis beras yang banyak beredar dan diminati warga Batam, yaitu beras jenis Bunga Lowe Merah (Rp 6.000 per kg), Aroma Indah dan Rambutan (Rp 6.081 per kg), dan Bumiayu (Rp 6.414 per kg).

Harga beras di Pulau Jawa rata-rata masih di bawah Rp 5.000 per kg. Harga beras termurah di Cirebon Rp 4.264 per kg untuk jenis IR-64 kualitas III dan harga tertinggi jenis Pandanwangi Rp 6.146 per kg. Di Semarang, Surabaya, Tasikmalaya, Purwokerto, Bandung, Lampung, dan Yogyakarta, harga beras relatif masih terjangkau masyarakat.

Sementara itu, pasokan beras ke Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, masih stabil. Volume beras yang masuk ke grosir dengan beras yang didistribusikan dalam kondisi seimbang.

Pasokan beras ke Pasar Cipinang per hari rata-rata masih di atas 1.900 ton, dan yang didistribusikan sekitar 2.000 ton. Kekurangan pasokan masih bisa ditutup oleh pasokan hari-hari sebelumnya.

Harga beras IR-64 kualitas I di pedagang grosir Cipinang Rp 4.950 per kg, IR-64 kualitas II Rp 4.650 per kg, dan beras jenis IR-64 kualitas III atau setara beras kualitas medium di Jakarta Rp 4.250 per kg.

Di tingkat pedagang di pasar tradisional, harga beras kualitas medium Rp 4.400 per kg-Rp 4.500 per kg.

Lonjakan harga bahan pangan di pasar dunia tahun 2007 sudah diprediksi berbagai kalangan sejak tahun 2006 lalu.

Pada Oktober-November 2006, Lembaga Penelitian Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kamar Dagang dan Industri Indonesia telah membahas isu tersebut bersama Badan Meteorologi dan Geofisika serta Bulog.

Kadin Indonesia—sebagaimana disampaikan anggota LP3E, Thomas Dharmawan—berharap agar pemerintah menyiapkan langkah-langkah untuk mengantisipasi lonjakan harga pangan yang disebabkan oleh perubahan iklim dan kecukupan stok pangan.

Kadin Indonesia berharap pemerintah bisa melakukan langkah terobosan. (MAS/DAY/har/Kompas)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: