Jelang Lebaran Pasar Tumpah Tetap Akan Jadi Kendala

Daftar pekerjaan rumah yang panjang masih muncul menjelang Lebaran 2007. Pekerjaan itu terutama tampak di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Menurut pengamatan di lapangan hari Sabtu dan Minggu (30/9), ada 27 titik pasar tumpah di wilayah Semarang dan sekitarnya yang berpotensi menjadi simpul kemacetan. Ini perlu diantisipasi agar dampak kemacetan dapat ditekan.

Selain pasar tumpah, banyak lampu jalan arteri Kaliwungu atau Semarang-Kendal yang mati. Banyaknya lampu padam ini dikeluhkan para pengendara sepeda motor karena mengganggu kelancaran arus lalu lintas. Di sebuah kawasan, ada median jalan dengan 175 tiang lampu. Sebanyak 70 tiang di antaranya, lampunya mati.

Para pengguna jalan juga mengeluhkan jalan bergelombang di Grobogan, Blora, Sragen, dan Demak, di Jawa Tengah. Mereka minta jalan ini diperbaiki.

Di Jawa Timur situasinya tidak lebih baik. Sebagian infrastruktur terutama jalan darat masih rusak. Berdasar data Dinas Perhubungan Jatim, dari 1.900 kilometer (km) jalan nasional, 1.077 km di antaranya dalam kondisi rusak. Demikian pula jalan provinsi, dari 1.440 km jalan, sepanjang 798 km dalam kondisi rusak. Perawatan terus dilakukan agar tidak menghambat arus mudik.

“Sebenarnya sebagian besar jalan sudah diperbaiki, kalaupun ada kerusakan, bukan tergolong berat, atau bergelombang,” ujar Kepala Subdinas Pembangunan Dinas PU Bina Marga Jatim Heri Budianto, Minggu.

Situasi lebih kurang sama tampak di Jawa Barat. Para calon pemudik asal Jabar menuju Jateng yang akan melewati jalur alternatif di selatan diminta berhati-hati meski aspal relatif baik.

Jalur alternatif Garut-Singaparna-Ciamis-Banjar yang berjarak 113 km bisa dipertimbangkan untuk digunakan. Dengan kondisi jalan relatif lebih lengang, pemudik bisa menggunakannya sebagai alternatif jalur utama Nagrek-Tasikmalaya-Ciamis-Banjar yang berjarak 91 km.

Kondisi jalan aspal masih baik dan tidak dalam perbaikan. Fasilitas umum seperti SPBU, masjid, sarana kesehatan, dan beberapa pos pengamanan ada di kiri atau kanan jalan. Bahkan, pemudik yang ingin melakukan wisata religius bisa ke Masjid Besar Manonjaya yang didirikan tahun 1837. Masjid itu masuk daftar situs purbakala yang dilindungi.

(CHE/HEN/HAN/BEE/SUP)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: