Hanya untuk Sehari Beras Kami

Kutatap periuk di depanku. Hitam sekali ia. Tak lagi seperti pertama kali ku membeli. Namun hitam periuk inilah yang membuatku makan makan beras yang diubah api menjadi nasi.

Sendok kayu ini.. sungguhlah memang kepunyaanku sendiri. Justru karenanya aku dapat memakainya untuk mengambil nasi matang, hangat, mengepul.. menghangati perut kami yang senantiasa lapar.. meski makan. karena makan kami adalah cukup sehari sekali.

Dia anakku yang masih mungil.. di bawah lima tahun . Ia tak bertanya apapun, meski aku memberikan nasi hanya dengan sendok tidak penuh… Anakku tiga tahun, menerima sendok pemberianku berisi nasi.. memindahkannya ke mulutnya, mengunyah, dan menelannya..

Sendok kayu… dengan alat ini pula aku tuangkan sayur terung. Kuahnya pun meluncurnya… membasahi nasi hangat….

Hanya itu yang kami makan di Jumat (14/9) ini (YR).

“Kami harus berhemat makanan dan makan seadanya untuk bertahan hidup. Semua nasi ini diperuntukkan bagi tujuh keluarga yang mengungsi di sini,” kata Baini, Warga Desa Serengai, Batiknau, Bengkulu Utara.

Warga Desa Serengai merupakan salah satu korban gempa yang paling menderita. Selain rumah mereka roboh akibat dihantam gempa, desa mereka juga dilanda gelombang air pasang setinggi lima meter dari permukaan laut.

Desa yang terletak sekitar 20 meter sampai 100 meter dari bibir pantai tersebut memang berantakan dan banyak yang roboh. Semua barang peralatan mereka rusak atau basah, termasuk cadangan beras yang mereka miliki.

Sebelum air pasang datang, warga sempat melarikan diri ke bukit setinggi 20 meter, yang merupakan areal yang dijadikan sebagai kuburan. Namun, hanya sedikit bahan makanan yang dapat mereka selamatkan. Sisanya rusak terendam air.

“Saat gempa, kami tergesa-gesa lari ke arah bukit. Hanya barang seadanya yang terbawa, termasuk sedikit beras ini,” kata Suadi, tetangga Baini.

Setelah dikonsumsi oleh tujuh keluarga selama tiga hari, beras yang mereka miliki tinggal setengah karung lagi atau sekitar 2,5 kilogram. Beras itu hanya cukup untuk satu hari ke depan atau bakal habis pada hari Sabtu ini.

“Kami tak tahu apa yang bisa dimakan setelah beras habis. Kami hanya berharap pemerintah mengirim bantuan,” tutur Suadi.

Tumbuhan liar

Beras yang ada saat ini dikonsumsi dengan sayur-sayuran dan tumbuhan liar yang tumbuh di sekitar bukit. Terung yang dimakan Baini dan anaknya itu merupakan tumbuhan liar di sekitar bukit.

Para penduduk di Desa Serengai juga tidak lagi memiliki uang karena sudah tidak dapat bekerja sebagai nelayan. Mereka masih takut melaut karena bayang-bayang gelombang air pasang dan tsunami masih menghantui.

Ketiadaan uang membuat mereka tidak dapat membeli beras untuk memenuhi kebutuhan harian. Selain itu, toko dan pasar yang terdekat juga belum buka karena ditinggal oleh para pedagang yang takut diterjang gempa dan gelombang pasang.

Menipisnya cadangan beras juga dialami oleh warga Desa Tanjung Alai, Lubuk Pinang, dan Mukomuko. Menurut Ibrahim, warga, setiap keluarga bergantian memasak untuk beberapa keluarga lain dengan cadangan beras yang tersisa.

“Kami bertahan hidup dari sisa cadangan beras warga. Cadangan beras itu sekarang mulai menipis dan mungkin bakal habis dalam satu atau dua hari ke depan. Saat ini, kami benar-benar butuh beras,” ujar Ibrahim.

Kekurangan bahan pangan sangat memberatkan warga karena mereka harus menahan udara dingin di luar rumah. Selain itu, berpuasa juga membuat mereka butuh asupan energi yang besar saat melaksanakan sahur dan buka puasa. (caesar alexey/ Kompas)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: