Gempa Bumi Miskin Informasi

Entah harus sampai kering semua sumber air mata kami, kini kami mengalami bencana bagi kehidupan kami. Betapa gemba bumi berskala besar mengguncang tanah kelahiran kami, Bengkulu, Rabu (12/9) malam. Kekuatannya sungguhlah besar, 7,9 pada skala Richter. Di mana sumber gempa itu, di lautan tempat kami memandang sehari-hari, Samudra Indonesia. 159 kilometer biasanya kami melangkah ke barat daya tempat kelahiran kami. Sedang yang ibukopta negara kami, Jakarta, saudara-saudara kami butuh jarak tempuh sampai 625 kilometer ke arah barat laut. Setelah Bengkulu, gempa juga melanda Jambi, Kamis (13/9) pagi, dan Sulawesi Utara, Kamis sore.

Pusat gempa di Bengkulu berada di koordinat 4,67 lintang selatan dan 101,13 bujur timur pada kedalaman 10 km meter di bawah permukaan laut. Secara teoretis, dengan melihat kekuatan dan pusat gempa, gempa itu memang berpotensi terjadi tsunami. Tetapi, dua jam kemudian Badan Meteorologi dan Geofisika mencabut pengumuman potensi tsunami itu. Itu karena lebih dari dua jam setelah gempa, tsunami tidak terjadi. Tsunami biasanya terjadi sekitar 20 menit-30 menit setelah gempa bumi.

Kita bersyukur gempa kali ini tidak separah bencana yang sama di Bengkulu pada Juni 2000. Waktu itu, lebih dari 100 orang meninggal, 15 ribu rumah rusak berat, 29 ribu rusak ringan, dan ribuan gedung sekolah, masjid, gereja, dan perkantoran runtuh. Padahal, dari segi besarannya, gempa tujuh tahun yang lalu itu berkekuatan 7,3 pada skala Richter, sedangkan kini hampir mencapai 8 pada skala Richter.

Namun, kali ini kepanikan tetaplah terjadi. Tidak saja karena keadaan menjadi gelap akibat listrik padam, tetapi seperti yang sudah-sudah, karena minimnya informasi. Tak ada pejabat pemerintah yang dengan segera menjelaskan kepada publik apa yang harus dilakukan. Di Kabupaten Muko-Muko, Bengkulu, misalnya, sistem peringatan dini sama sekali tidak berfungsi. Padahal, di daerah itu masyarakat amat perlu informasi karena kerusakan bangunannya cukup parah.

Radio dan televisi memang hampir semuanya menyiarkan bencana itu. Tetapi, itu semata-mata karena tanggung jawab media masa yang memang harus memberikan informasi terbaik kepada publik. Namun, sungguh mengherankan tidak ada inisiatif yang segera dari pemerintah, misalnya, dengan sengaja mengumumkan bencana itu dan apa yang harus dilakukan masyarakat.

Memang prediksi gempa bumi hingga kini masih terus dalam penelitian. Artinya belum ada satu pun ramalan gempa yang benar-benar ilmiah. Namun, bukan berarti masyarakat dibiarkan tanpa panduan. Informasi yang segera dari pemerintah atau pihak yang punya otoritas tentang kegempaan bisa mengurangi kepanikan masyarakat. Bahkan, bisa mencegah akibat yang lebih buruk.

Namun, secara geologis kita tahu bahwa Indonesia negara kepulauan rawan gempa. Negeri ini memang tempat pertemuan tiga lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan lempeng Pasifik. Bisa dibayangkan akibatnya jika lempeng-lempeng itu saling bertabrakan.

Kita juga sudah tahu daerah-daerah mana yang potensi gempanya sangat tinggi. Berdasarkan catatan sejarah kekuatan gempa, hanya pantai selatan Irian dan Kalimantan bagian barat yang masuk kategori wilayah stabil. Wilayah itu memang tidak pernah punya catatan terjadi gempa.

Di luar wilayah itu, semuanya punya potensi bencana. Bahkan, potensi gempa daerah Halmahera dan pantai utara Irian sangat aktif, yakni bisa berkekuatan di atas 8 pada skala Richter. Adapun yang masuk kategori aktif atau berkekuatan gempa 7 hingga 8 pada skala Richter, terjadi di daerah lepas pantai barat Sumatra, pantai selatan Jawa, Nusa Tenggara, dan Banda.

Karena itu, tidak boleh ada kata berhenti untuk menyosialisasikan bahaya di daerah rawan gempa. Terlebih ketika bencana benar-benar terjadi, harus ada sistem yang secara otomatis bekerja, sekurangnya dalam langkah dini minimal memberi informasi. Sayang, lagi-lagi, negara kerap alpa dalam perkara ini. (Media Indonesia/YR)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: