Bantuan Bagi Kami Belum Merata

Berjajar-jajar mulut menganga, perut lapar melilit, dada berkembang kempis menahan duka. Kami, ribuan korban gempa di wilayah Kabupaten Mukomuko dan Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, masih menengadahkan tangan kepada Tuhan, bukan kepada sesama. Sebab sesama manusia cukuplah dipakai Tuhan untuk memberikan kasihnya kepada sesama manusia. Inilah kenyataan yang cukup menyakitkan diri.. bantuan belum sampai kepada kami. Bahkan, melintasi laut ini, gelora air laut dan udara yang mendesaukan suara dapat mendengar bantuan untuk korban di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, hingga rembang petang kemarin belum terkirim.

Sedangkan kaum kami yang tewas tertimbun bangunan roboh akibat gempa hingga kemarin semakin bertambah dan bertambah. Tiga belas kaum kami tewa di Bengkulu, dan lima manusia di Sumatera Barat. Sedang di seberang laut adalah seorang kehilangan nyawa, di Kepulauan Mentawai.

Kepada siapakah kami harus minta pertolongan lagi? Bantuan demi bantuan yang menjadi hak kami belumlah tersalurkan sampai hari ini. Seperti tersendat dalam perjalanan masuk perut, tersendat di kerongkongan kami hingga Jumat.

Daerah lebih masuk.. malam siap melumat.. dalam dingin malam dan udara jahat.. kami para korban gempa.. daerah kami palinglah parah kerusakannya. Masih terbayang dalam benak kami kota kami yang indah permai.. di manakah wajahmu kini?…

Bengkulu Utara.. Mukomuko.. 290 kilometer sanak saudara kami mesti menyusur jalan untuk sampai, dari Kota Bengkulu).

“Siapa… siapa yang sudi membantu kami hingga tangan kami menerima uluran tangan mereka?”

“Tak. Tak satu pun yang kamu terima sampai kini…”

Aku perempuan Desa Air Buluh, Kecamatan Ipih, Kabupaten Mukomuko. Dalam titik air mataku, aku hanya sanggup mengatakan, “Hingga kemarin kami belum menerima bantuan makanan atau tenda.. sedangkan rumah kami pun sudah tidak punya, dimakan murka alam maha kuat..” (YR)

Menurut Walbasri, warga Desa Serangai, Kecamatan Batikenau, Kabupaten Bengkulu Utara, persediaan beras warga menipis. “Kami hanya makan nasi putih dan sambal. Persediaan beras tinggal untuk sore ini. Kalau besok, entahlah,” kata Walbasri.

Menurut Ibrahim, anggota Badan Perwakilan Desa Tanjung Alai, warga hanya bertahan dengan beras persediaan yang tersisa atau berbagi beras di antara sesama korban.

Asisten II Pemerintah Provinsi Bengkulu yang juga pejabat di Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana Alam (Satkorlak PBA) Provinsi Bengkulu, Fauzan Rahim, mengaku satkorlak provinsi sudah menyalurkan bantuan kepada satuan pelaksana kabupaten dan kota sesuai permintaan bupati atau wali kota.

Berdasarkan pengamatan Kompas, hingga Jumat petang, berbagai bantuan berskala besar untuk para korban gempa tiba di Bengkulu. Bantuan ini antara lain ribuan dus mi instan, susu bayi, obat-obatan, ribuan lembar selimut, tenda terpal, sekitar 150 ton beras, dan pakaian.

Kepulauan Mentawai

Ribuan korban gempa di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, juga masih menunggu bantuan perlengkapan berupa tenda, bahan makanan, dan obat-obatan. Bahan bantuan baru direncanakan jalan hari Sabtu (15/9) malam.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Mentawai, yang mengoordinasikan bantuan mencatat, ribuan rumah rusak di daerahnya. Sebagian besar berada di Kecamatan Pagai Utara-Selatan.

Sekitar 5.000 orang mengungsi ke daerah-daerah pegunungan yang lebih tinggi karena rumah mereka rusak dan takut terhadap adanya tsunami.

Bantuan dari luar Padang untuk korban gempa di Sumbar juga belum tiba. Oleh karena itu, untuk meringankan beban korban, Satkorlak Penanggulangan Bencana dan Dinas Sosial Sumatera Barat mengandalkan cadangan bahan makanan dan peralatan yang mereka miliki.

Sementara itu, aktivitas ekonomi di Kota Padang dilaporkan bergeliat kembali kendati kondisi belum sepenuhnya normal. Sejumlah pedagang mulai berjualan. Namun, aktivitas di pasar belum terlampau ramai.

Di sepanjang jalan protokol Kota Padang, toko-toko mulai buka, setelah tutup hari Rabu malam dan Kamis. Sebagian pemilik toko hanya membuka pintu sebagian karena masih khawatir terjadi gempa susulan.

Aktivitas perdagangan di Pasar Raya sudah terlihat meski hanya satu dua kios yang buka. Kegiatan jual beli sempat terhenti hari Kamis setelah gempa besar terjadi pada pagi hari. “Sebagian pedagang masih mengungsi ke tempat saudara mereka sehingga kios belum buka,” ucap Beni, salah seorang pedagang sembilan bahan pokok di Pasar Raya.

Bantuan dana

Wakil Presiden M Jusuf Kalla di Jakarta mengutarakan, pemerintah akan merehabilitasi bangunan korban gempa di Provinsi Bengkulu dan Sumatera Barat. Pemerintah akan memperlakukan mereka dengan cara yang sama seperti terhadap korban gempa di Yogyakarta.

Mengenai besaran jumlah bantuan perbaikan, Kalla menyatakan tergantung pada keadaannya. “Yang penting rumahnya berdiri lagi. Kalau di Yogyakarta, bantuannya ada yang sebesar Rp 15 juta dan ada juga yang sampai Rp 20 juta. Kita tunggulah perhitungannya,” ujar Wapres.

Ditanya soal sikap pemerintah yang menolak bantuan luar negeri, Kalla menyatakan, pemerintah dengan tangan terbuka akan menerima jika ada bantuan. Namun, pemerintah tak akan meminta. “Gempa di Bengkulu ini tidak sebesar di Aceh dan di Yogyakarta. Kalau ada yang mau menyumbang, kita terbuka saja, akan tetapi kita tidak akan meminta. Tidak pernah kita menyatakan membutuhkan sekian,” kata Wapres lagi.

Kepala Sub-Direktorat Kesiapsiagaan dan Mitigasi Departemen Sosial Margo Wiyono memastikan pihaknya telah menyediakan bantuan pangan, obat- obatan, dan perlengkapan lainnya di gudang dinas sosial di setiap provinsi. “Tugas kami di pusat memperkuat pemerintah provinsi agar bantuan bisa sampai di kecamatan. Selanjutnya tugas provinsi untuk mendistribusikan bantuan ke masyarakat. Ini kan sudah otonomi daerah,” katanya.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Ginandjar Kartasasmita yang memantau situasi Bengkulu pascagempa mengatakan, anggota DPD yang berada di lapangan melaporkan, pesisir utara antara Lais, Kabupaten Bengkulu Utara, hingga Mukomuko memang mengalami kerusakan parah. Sarana jalan dan fasilitas umum serta rumah penduduk hancur. Warga sangat membutuhkan tenda, selimut, makanan, dan air bersih. Jika bantuan tidak segera dikirim, dua hari lagi akan muncul masalah.

Namun, dia memahami antara kebijakan pemerintah dan kenyataan di lapangan kerap terjadi gap seperti pada masa lalu. Karena itu, DPD siap membantu dan bekerja sama dengan pemerintah pusat ataupun daerah. (Tim Kompas)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: