Ketika Lempeng Tumbukan

Dua hari yang mencemaskan.. belum genap kami merasa tenang menikmati hari pertama berpuasa…. gempa seperti saling menyusul.. dan kami yang menyiapkan hati dan raga untuk bulan suci menjadi terkapar dalam dada.. Gempa berskala 7,9 skala Richter pada Rabu sore dan 7,7 skala Richter (Kamis pagi) menelantarkan kami warga empat propinsi.. Bengkulu, Sumbar, Sumsel, dan Jambi cemas.

Pantai bergelora, debur ombak tidak seperti biasanya.. kami hendak ditelan alam. Ombak menggulung kami, ternyata gempa-lah penyebabnya. “Tsunami… Tsunami kah ini…??”… Lempeng Samudera pasifik saling bertumbuk.. kami tercekam.

Tidak hanya itu. Gempa yang terjadi juga memicu peningkatan aktivitas beberapa gunung berapi di Indonesia. Dalam wilayah geografis Indonesia, terdapat istilah ring of fire (jajaran gunung api). Wilayahnya meliputi Sumatera, Jawa, hingga perairan Banda. Akibat gempa Bengkulu dan Sumbar itu, aktivitas Gunung Talang (Sumbar) dan Kerinci (Jambi) meningkat. Kondisi Gunung Kelud di Jatim juga meningkat menjadi siaga. Begitu juga, Gunung Soputan dan Karangetan di Sulut.

Menurut Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Herry Harjono, peningkatan aktivitas gunung berapi yang termasuk dalam ring of fire akibat gempa merupakan sesuatu yang wajar. Sebab, secara geologi, jajaran gunung tersebut berada di atas batas pertemuan antarlempeng.

“Jadi, kalau ada interaksi (antarlempeng), pasti akan berpengaruh kepada gunung-gunung tersebut,” ujar Herry kepada Jawa Pos tadi malam. Palung yang merupakan pertemuan dua lempeng bumi bergerak, lanjut dia, akan mendorong terjadinya deformasi.

Dia menjelaskan, deformasi merupakan perubahan-perubahan di dalam bumi akibat proses-proses geologi yang terjadi. Prosesnya bisa berupa tabrakan antarlempeng maupun naik turunnya daratan. “Gempa dan gunung api merupakan bagian dari konsekuensi terjadinya deformasi itu,” kata Herry.

Mantan kepala Pusat Geoteknologi LIPI itu menambahkan, di Pulau Sumatera terdapat pertemuan antara lempeng Hindia dan lempeng Sumatera (merupakan bagian dari lempeng Eurasia). Sedangkan di selatan Jawa yang terjadi adalah pertemuan lempeng Eurasia dengan India-Australia. “Karena bertabrakan, lempeng-lempeng tersebut terus menyusup dan mendorong ke atas,” jelasnya.

Di Sumatera, menurut Herry, lempeng tersebut menyusup hingga 200 kilometer. Di Jawa lebih dalam lagi, yaitu 600 kilometer. Mengapa berbeda? “Sebab, lempengan yang ada di Jawa lebih tua,” jawabnya. Karena lebih tua, lempeng memiliki daya soliditas yang lebih kuat dan mempunyai kemampuan menarik yang kuat pula.

Dia menjelaskan, semakin jauh dari pertemuan lempeng, daerahnya semakin aman. Hal itu terjadi di wilayah timur Sumatera, Malaysia, dan juga Kalimantan.

Pertemuan lempeng yang menyusup dan mendorong ke atas mengakibatkan terdorongnya berbagai kandungan bumi dalam bentuk magma yang dimuntahkan oleh gunung api. Magma itulah yang mengandung banyak mineral. (fal/YR)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: