Gejolak Pasar Sembako karena Suplai

“Tak habis pikir.. harga sembako selalu bergejolak dari masa ke masa..”
“Iya.. siklusnya sepertinya tetap..”
Mereka diam sejenak.. sambil merumuskan pikirannya sendiri-sendiri.. namun komunikasi di antaranya terjaga, sehingga terucap dari mulut mereka, “Ini harus diredam dengan pengorganisasian yang solid. Kita butuh lembaga!”
“Tidak cuma itu.. kita butuh sistem!”
Sistem yang permanen untuk menjalankan fungsi stabilisasi. Untuk mengendalikan fluktuasi harga dalam jangka panjang, pembenahan jaringan suplai ke pasar tradisional makin mendesak.

Anggota Komisi VI DPR, Zulkifli Halim, menegaskan, Departemen Perdagangan (Depperdag) sudah menjadi institusi yang seakan tumpul dalam melaksanakan tugas mengontrol harga produk pangan.

“Itu karena Departemen Perdagangan terlalu percaya pada mekanisme pasar bebas. Selain itu, pemerintah memang tidak punya instrumen yang kuat untuk stabilisasi harga,” katanya, Selasa (11/9) di Jakarta.

Menurut Zulkifli, lembaga dan sistem yang permanen dibutuhkan untuk menstabilkan harga. Terlebih lagi, kenaikan harga sudah menjadi siklus yang rutin.

Sebagaimana diberitakan berhari-hari sebelumnya, harga sejumlah komoditas kebutuhan sehari-hari melonjak secara meluas di sejumlah kota menjelang bulan Ramadhan. Sejauh pengamatan, hanya harga beras yang relatif stabil. Harga komoditas lainnya, terutama sayuran dan bumbu-bumbuan, melonjak tinggi. Kenaikan harga ini dikeluhkan ibu-ibu rumah tangga.

“Jangankan macam-macam urusan lain, ngurus minyak goreng saja enggak beres. Sudah ada subsidi Rp 325 miliar. Untuk mengantarkan uang itu kepada rakyat yang berhak saja, pemerintah ini belum menemukan bagaimana caranya,” ujar Zulkifli.

Bisa diperhitungkan

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, M Chatib Basri, menilai persoalan kesiapan pasokan dan distribusi tetap menjadi isu utama yang melatari kenaikan harga produk-produk pangan beberapa pekan terakhir. Spekulasi hanya mungkin terjadi dalam jangka pendek.

“Bahan pangan ini, kan, produk pertanian yang bisa dihitung kapan terjadi siklus peningkatan permintaannya, beda dengan harga saham,” ujar Chatib.

Ia mencontohkan, perkembangan harga produk pangan di pasar modern relatif lebih stabil, sedangkan di pasar tradisional cenderung lebih fluktuatif. Perbedaan kondisi ini terutama disebabkan jaringan distribusi dan penyuplai yang terbangun lebih baik di pasar modern.

Karena itu, katanya, untuk mengendalikan fluktuasi harga dalam jangka panjang, pembenahan jaringan suplai ke pasar tradisional makin mendesak dilakukan.

Terkait dengan kenaikan harga sayuran dan bahan bumbu masak sepekan terakhir, Chatib menilai kondisi itu tak lepas dari persoalan kelancaran distribusi. “Masalahnya, kelancaran distribusi yang makin krusial saat permintaan meningkat ini terkait juga dengan kondisi infrastruktur kita,” ujarnya.

Tak tertutup pula kemungkinan adanya spekulasi untuk menaikkan harga menjelang bulan puasa. Namun, Chatib meyakini spekulasi hanya akan terjadi dalam waktu singkat karena sayuran tidak tahan lama.

Secara terpisah, Direktur Bina Pasar dan Distribusi Depperdag Gunaryo meyakini kenaikan harga produk pangan di pasar tradisional sepekan terakhir ini tidak disebabkan permainan spekulan.

“Spekulan muncul kalau stok tipis. Mereka menahan stok, lalu mengeluarkan sedikit-sedikit sehingga harga naik ketika permintaan tinggi. Sekarang ini saya yakin spekulasi tidak terjadi karena stok bahan pangan rata-rata cukup untuk kebutuhan sampai satu bulan ke depan,” ujarnya.

Stok bahan pangan yang dipantau Depperdag dan diyakini cukup aman antara lain beras, gula, dan minyak goreng.

Meski begitu, Gunaryo mengakui pasokan daging dan telur ayam pekan lalu memang sempat tersendat sehingga harganya naik cukup signifikan. Berdasarkan konfirmasi Depperdag kepada pemasok produk unggas itu, dalam pekan pertama bulan puasa, pasokan produk unggas diyakini sudah normal kembali.

Terkait penjualan produk sayur-mayur, Gunaryo mengatakan menjelang Lebaran pedagang juga ingin mendapat bonus hari raya. “Caranya, ya, mereka menaikkan harga jual mumpung permintaannya tinggi. Jadi ini juga bukan karena pasokan kurang,” ujarnya.

Dia yakin pasokan dan distribusi produk pangan tak bermasalah. Sesuai pemantauan Depperdag, pergerakan harga di pasar modern tidak berfluktuasi tajam seperti di pasar tradisional.

Berubah

Sejumlah pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, mengatakan, terjadi perubahan sumber pemasokan sayur-mayur. Pasokan komoditas dari beberapa daerah produsen yang dekat dari Jakarta, seperti Lembang, Jawa Barat, terhenti sejak awal September, sehingga pasokan terpaksa diambil dari daerah produsen yang jauh seperti Jawa Tengah. Hal itu otomatis mengatrol harga karena ongkos angkut yang bertambah.

Di Palembang dan Jambi pola itu juga terjadi. Daerah itu semula memenuhi kebutuhan telur dan daging ayamnya dari daerah sendiri, tetapi kini harus mendatangkan dari daerah lain seperti Lampung. Itu karena peternakan ayam Sumatera Selatan dan Jambi terpuruk karena serangan flu burung. (DAY/LKT/DOE/BOY/Kompas)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: