Gempa Bumi Memperingatkan Kewaspadaan

Gempa besar yang mengguncang kota Bengkulu ketika rembang petang memandikan bumi dengan cahaya maghrib, pertengahan minggu pada hari Rabu (12/9) pukul 18.10 WIB sungguh merupakan gempa dengan skala kekuatannya mencapai atas rata-rata, 7,9 skala Richter. Oooohh… betapa besar kekuatannya mengguncang!!! Betapa dahsyat ayunan gerak bergetar, laut bergelora menjadi pusat gempa, meski tidak terlalu dalam masuk dasar laut, hanya 10 kilometer, Tsunami sangguplah didatangkan oleh gempa ini. Susul-menyusul.. hingga pukul 21.40 bumi pun bergerak lagi. Gempa susulan menyapa, bermagnitudo 6,6 SR. Syukurlah … Tsunami tidak terjadi. Mengapa?

Melihat tingkat kegempaan yang tinggi itu, Kepala Pusat Gempa Nasional Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Suhardjono menjelaskan, BMG telah mengeluarkan peringatan akan terjadinya tsunami atau gelombang pasang beberapa menit setelah kejadian gempa tektonik tersebut lewat beberapa stasiun televisi dan SMS.

“Bila terjadi tsunami, gelombang itu akan sampai ke pantai Bengkulu dan Padang sekitar 20 menit, serta Lampung dalam waktu setengah jam,” ujarnya. Namun, BMG pada pukul 20.10 mengumumkan pembatalan bahwa gempa yang berada sekitar 159 kilometer sebelah barat daya Bengkulu, tepatnya 4,67 Lintang Selatan dan 101,13 Bujur Timur, tidak menimbulkan tsunami.

Menurut pakar seismik dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Yusuf Surachman, gempa susulan (aftershock) yang kekuatannya naik-turun, sempat 6,6 SR, pola itu biasa.

Gelombang gempa merambat spherical, merambat ke semua arah seperti menjalari ruang bola. Jadi, kadang-kadang ada jalaran gelombang yang terhambat karena batuan yang dilewati tidak homogen. “Kadang-kadang terhambat, lalu melepas energi. Kadang bisa lewat langsung sehingga kekuatannya kecil. Tapi, trennya di bawah main shock (gempa utama),” tambah Yusuf.

Pusat gempa yang terjadi di perairan Bengkulu, menurut Danny Hilman, pakar geologi dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), berada di utara Pulau Enggano dan merupakan zona pertemuan Lempeng Samudra Indo-Australia dengan Lempeng Benua Eurasia.

Tumbukan horizontal

Menurut Danny, gelombang pasang (tsunami) tidak terjadi di kawasan barat daya Sumatera akibat gempa tektonik tersebut. Ini karena pola tumbukan kedua lempeng tersebut mendatar atau horizontal, bukan menunjam (subduksi) seperti yang terjadi di segmen lain tetangganya, segmen Mentawai dan segmen Simeulue.

Pusat gempa yang terjadi Selasa kemarin berada di ujung selatan segmen Mentawai, tepatnya di segmen Enggano. Lokasi itu pernah menjadi pusat gempa besar tahun 2000. Ketika itu skalanya mencapai 7,8 SR dan tidak menimbulkan tsunami.

Dengan dua kejadian gempa di Sesar Enggano, Danny mengkhawatirkan terganggunya Sesar Mentawai di sebelahnya. “Bila sampai sesar ini terpicu, berpotensi menimbulkan gempa besar di atas 8 skala Richter dan mengakibatkan tsunami,” urai Danny, yang sejak 13 tahun lalu bekerja sama dengan peneliti dari California Institute of Technology untuk meneliti pola kegempaan yang unik di kawasan barat Sumatera.

Berdasarkan penelitiannya, diketahui ada periodisasi kegempaan dalam skala yang besar di pantai barat Sumatera yang terbagi dalam beberapa segmen, mulai dari Aceh hingga ke Bengkulu.

Khusus untuk segmen Mentawai, berdasarkan penelitiannya diketahui telah terjadi gempa besar dengan kekuatan 8,4 SR pada tahun 1797 dan 8,9 SR pada tahun 1833 tepatnya di Pulau Pagai yang berada di gugusan Kepulauan Mentawai. “Periode pengulangan gempa di kepulauan ini 200 tahun. Maka diperkirakan pada sekitar tahun 2033 di kawasan itu akan kembali terjadi gempa besar,” urainya.

Jika gempa itu sampai terjadi, Jakarta yang berjarak 600 kilometer dari Mentawai dapat terkena pengaruhnya. Akibat gempa ini tsunami besar bisa terjadi karena segmen Mentawai berpola subduksi. Tsunami di perairan Padang akan muncul hingga 4 meter dan menjelajah pantai ibu kota Sumatera Barat ini sejauh 1 kilometer, sedangkan di perairan Bengkulu terbentuk tsunami setinggi 5 meter. Namun, tidak terlalu mengancam kota ini karena topografi pantainya yang tinggi.

Seperti gempa di Aceh, sumber gempa Mentawai merupakan bidang yang panjangnya hingga 600 kilometer di batas pertemuan lempeng. Karena itu, dampak tsunami yang muncul akan meluas.

Periode pengulangan gempa besar di atas 7 SR terjadi di pulau-pulau sebelah barat Sumatera, seperti Simeulue, Nias, Kepulauan Batu, Siberut, Sipora, Pagai, dan Enggano, 200 tahun hingga 300 tahun.

Menurut Danny, saat ini tim dari LIPI, Bakosurtanal, dan Caltex tengah berada di Pulau Sipora Mentawai untuk memasang dua antena GPS (global positioning system). Mereka akan kembali Jumat mendatang. Dengan demikian, hingga kini telah terpasang 29 antena GPS yang tersebar dari Aceh, Nias, Padang, Mentawai, hingga Bengkulu.

Pemasangan GPS bertujuan untuk mengetahui pola pergerakan muka Bumi di kawasan itu. Peralatan itu untuk memprediksi aktivitas seismik di tiap segmen tersebut. (Yuni Ikawati/ Brigitta Isworo)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: