Gempa Bengkulu Mimpi Buruk di Cahaya Petang

“Kami sungguh bermimpi buruk. Mimpi yang mengunjungi kami ketika cahaya petang membasuh jiwa raga kami..,” kata lelaki itu dengan peluh keringat jatuh dan makin jatuh menghunjam bumi.  “Kami memang bertanggungjawab kepada komitmen kami selaku regu penyelamat SAR..,” kata lelaki itu, Ki Agus M Ridwan, anggota Tim Search and Rescue (SAR) Kwartir Cabang Pramuka. “Suasana malam itu (12/9) tidak pernah kami harapkan sebelumnya… ketika itu saya baru saja menyusuri kawasan gempa di Arga Makmur, ibu kota Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.

Gempa berkekuatan 7,9 skala Richter yang mengguncang Bengkulu pada pukul 18.10 WIB bagai mimpi buruk di senja hari. Sebagian warga yang sedang bersiap melakukan shalat tarawih, menyambut puasa pertama Ramadhan ini, tidak pernah mengira malam yang syahdu itu berubah jadi mencekam.

Sejumlah bangunan dan rumah penduduk di Arga Makmur roboh, hancur, atau retak-retak. Suasana semakin mencekam karena listrik mendadak padam. Warga akhirnya panik dan berlarian, mengungsi ke tempat-tempat yang dianggap aman.

Kepanikan itu belum mereda hingga larut malam. Di tengah kekalutan dan karut-marutnya suasana tersebut tak ada pula bantuan atau imbauan dari aparat pemerintah yang bersifat menenangkan. Lengkaplah sudah kegalauan mereka sehingga sampai pukul 22.00 WIB pun banyak yang tidak tahu harus berbuat apa dan hanya berdiam di pinggir jalan.

Di provinsi lain

Getaran gempa yang keras juga dirasakan di Bengkulu bagian selatan semalam, seperti di Kabupaten Manna dan Seluma. Warga juga panik dan berhamburan mencari tempat aman.

Suasana serupa terlihat di provinsi-provinsi lain yang berdekatan dengan Bengkulu, seperti Sumatera Barat, Jambi, Riau, Sumatera Selatan, dan Lampung.

Di sepanjang jalan Sudirman dan Harapan Raya, di Pekanbaru, Riau, misalnya, warga berebutan keluar dari gedung atau rumah saat gempa mengguncang wilayah itu.

Di Kampar, gempa membuat panik warga yang baru selesai melakukan tradisi balimau kasai di Desa Batu Belah dalam rangka membersihkan diri menjelang puasa Ramadhan. Lalu lintas di atas Jembatan Danau Bingkuang, di ruas jalan Pekanbaru-Bangkinang, menjadi macet total karena ribuan orang meninggalkan lokasi balimau kasai dan memenuhi badan jalan.

Di pusat perbelanjaan Jambi Prima Mal, Kota Jambi, barang-barang berjatuhan akibat getaran yang cukup kencang di lantai II dan III. Melihat kejadian itu, puluhan warga yang ada di tempat tersebut pun ketakutan dan langsung berhamburan pulang.

Getaran gempa yang cukup kuat dirasakan pula oleh warga Palembang dan Pagar Alam, yang berjarak sekitar 250 kilometer dari Palembang. Tiang listrik yang terguncang membuat warga panik.

Di Kecamatan Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, yang berbatasan langsung dengan Provinsi Bengkulu, satu tempat penginapan roboh. Di Kecamatan Ranak Pesisir, enam rumah roboh. Selain itu, dilaporkan pula satu kantor di Padang rusak dan sejumlah kaca di Bandar Udara Internasional Minangkabau pecah.

Gempa yang terjadi semalam juga membuat panik warga Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sehingga mereka pun tak luput dari upaya pengungsian.

Di Pulau Enggano, yang berjarak 170 kilometer barat daya Kota Bengkulu, getaran gempa terasa sangat kuat. Rumah-rumah penduduk yang sebagian konstruksinya terbuat dari kayu dan dinding kayu berderik-derik dan bergetar.

Gempa di pulau terluar bangian barat Indonesia itu berkekuatan 4 Modified Mercalli Intensity (MMI).

Pada tahun 2000, Enggano juga diguncang gempa yang cukup kuat, yakni berkekuatan 7,3 skala Richter. Saat itu 90 persen rumah di pulau tersebut roboh. Dermaga berkonstruksi beton yang menjorok ke laut terbelah menjadi beberapa bagian.

Karena itu, wajar jika semalam ketika ada pengumuman ada potensi tsunami, warga di Enggano begitu panik. Sebab, apabila terjadi tsunami, diperkirakan 90 persen rumah di daerah itu akan langsung tersapu gelombang mengingat rumah penduduk pada umumnya dekat dengan bibir pantai. Selain itu, tidak ada vegetasi yang cukup lebat di pinggir pantai untuk menghalangi air menuju permukiman penduduk.

Meski kepanikan dan kekhawatiran masyarakat di berbagai provinsi begitu nyata, hingga pukul 21.00 belum terlihat perhatian khusus pemerintah. Di Kota Bengkulu tenda-tenda pengungsi didirikan swadaya oleh tim SAR, sedangkan di Arga Makmur belum dibangun tenda pengungsi. (Tim Kompas)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: